Logo Bloomberg Technoz

"Dampaknya juga sangat terasa bagi lingkungan. Es pegunungan membantu menjaga keseimbangan air di Papua. Jika mencair, maka ekosistem, habitat satwa, hingga lahan pertanian masyarakat bisa ikut terdampak," ujar dia. "Mungkin saja, kita sedang hidup di generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia."

Terpisah, Pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Emilya Nurjani menyampaikan ketebalan gletser di belahan Bumi utara dan selatan memang mengalami penyusutan baik dari segi luas maupun tebal. Lebih spesifik, ia menyebutkan dua gunung es wilayah tropis dengan jumlah degradasi yang cukup signifikan, terjadi pada Puncak Gunung Kilimanjaro, Afrika dan Puncak Jaya, Indonesia.

Menurut dia, penyusutan lapisan es ini disebabkan oleh dampak dari radiasi matahari dengan gelombang pendek merupakan sumber energi utama yang menggerakan cuaca dan iklim di bumi. Dia mengatakan segala jenis penggunaan atau penutupan lahan di permukaan di bumi akan menyerap dan melepaskan energi dari radiasi matahari, seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pemukiman, waduk, beton, bahkan es dan salju di wilayah kutub.

Selanjutnya, rasio energi matahari yang dilepaskan dan diserap oleh penutup lahan yang ada di bumi disebut sebagai albedo.  Es atau gletser merupakan penutup lahan dengan nilai albedo paling besar karena sebagian besar energi radiasi matahari akan dikembalikan ke atmosfer oleh gletser, sehingga bentuk lahan gletser bisa tetap utuh.

“Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun, sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan  mencairnya gletser,” ujar Emilya dalam situs resmi UGM, Jumat (17/04/2026).

(dov/frg)

No more pages