Harga emas pun sukses naik dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terangkat lebih dari 3%.
Kabar dari Negeri Paman Sam menjadi pengatrol harga emas. US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, perekonomian AS menciptakan 57.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) sepanjang Juni. Jauh lebih sedikit ketimbang Mei yang mencapai 110.000 dan menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir.
Tekanan di pasar tenaga kerja sepertinya menjadi penghalang bagi bank sentral Federal Reserve untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Kemungkinan Gubernur Kevin Warsh dan sejawat belum menaikkan suku bunga dalam rapat bulan ini.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas suku bunga acuan Negeri Adidaya bertahan di 3,5-3,75% dalam rapat 29 Juli mencapai 82,4%. Lebih tinggi ketimbang minggu lalu yang sebesar 67,9%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas jadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan membuat isu penurunan suku bunga oleh The Fed kembali mengemuka, yang kemudian membuat harga emas naik. Ke depan, arah harga emas akan tergantung oleh data yang sedianya mendukung penurunan suku bunga,” tutur Ewa Manthey, Commodities Strategist di ING Bank NV, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)































