Logo Bloomberg Technoz

“Jadi berbeda ya, kalau yang sekarang ini lebih dipengaruhi oleh migasnya karena nonmigasnya kita masih surplus ya,” jelas Ateng dalam konferensi pers di kantornya dikutip Kamis (2/7/2026). 

Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-Mei 2026 tercatat surplus US$4,03 miliar. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$16,31 miliar, sementara komoditas migas masih defisit US$12,28 miliar.

China menjadi negara penyumbang defisit terdalam terhadap negara perdagangan barang Indonesia. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara penyumbang surplus terbesar untuk perdagangan migas dan nonmigas. 

Ateng memerinci secara keseluruhan baik migas maupun nonmigas negara penyumbang surplus terbesar yaitu AS senilai US$7,03 miliar, India sebesar US$5,29 miliar, dan Filipina sebesar US$3,59 miliar. 

Dia menyebut khusus untuk neraca perdagangan nonmigas, tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu AS sebesar US$8,47 miliar, India sebesar US$5,34 miliar, dan  Filipina sebesar US$3,42 miliar.

Komoditas nonmigas penyumbang surplus untuk Januari-Mei 2026 adalah lemak dan minyak hewan nabati (US$13,92 miliar); bahan bakar mineral (US$10,88 miliar); besi dan baja (US$7,09 miliar); nikel dan barang daripadanya (US$5,36 miliar); dan alas kaki (US$2,72 miliar).

Sedangkan komoditas nonmigas penyumbang defisit adalah mesin dan peralatan mekanis (US$12,74 miliar); mesin dan perlengkapan elektrik (US$ 6,23 miliar); plastik dan barang dari plastik (US$3,74 miliar); serealia (US$1,62 miliar); instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis (US$1,56 miliar).

Respons Pemerintah 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan defisit neraca perdagangan disebabkan oleh harga minyak mentah yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah, sehingga nilai impor mengalami kenaikan yang cukup tajam.

“Dugaan saya karena itu, karena kita impor migas harganya lagi naik kan,” kata Purbaya ditemui di kantornya, Kamis (1/7/2026) petang. 

Purbaya menilai, ke depan neraca perdagangan akan kembali terkendali apabila harga minyak dunia menurun. “Defisit membesar karena harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan,” tambahnya.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran berpotensi mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Menurutnya, perkembangan tersebut dapat menekan harga minyak dunia yang selama ini menjadi salah satu pemicu membengkaknya impor migas.

“Jadi akibat dari perubahan mungkin harga minyak, langsung berdampak. Tentu kita berharap rencana mereka untuk ceasefire [gencatan senjata] perdamaian itu kita lihat lagi dalam waktu satu sampai dua bulan ke depan,” tutur Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (1/7/2026).

Untuk menjaga daya saing industri sekaligus menekan biaya produksi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah insentif, antara lain pembebasan bea masuk impor menjadi 0% untuk LPG, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat.

“Sudah diantisipasi oleh pemerintah, tinggal kita lagi menunggu proses PMK [Peraturan Menteri Keuangan]-nya. Jadi kalau itu selesai, ya mudah-mudahan itu akan mengurangi tekanan [ke perekonomian],” tutur Airlangga.

(lav)

No more pages