Wakil Presiden JD Vance mengatakan pada Rabu bahwa pembicaraan teknis — yang dilakukan oleh para negosiator tingkat bawah — masih berlanjut.
“Para negosiator teknis sedang duduk bersama pihak Iran, Qatar, dan pihak-pihak lain di Doha, membahas beberapa detail di sini,” katanya kepada wartawan di Virginia Beach, Virginia.
Dia mengatakan hal-hal tersebut mencakup pembahasan mengenai kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz dan menambahkan bahwa para negosiator akan “mulai membicarakan” isu-isu nuklir, yang juga menjadi prioritas utama.
Qatar menyatakan bahwa pertemuan berikutnya akan dijadwalkan sesegera mungkin setelah upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara pada awal konflik. Upacara pemakaman diperkirakan akan dimulai pada 4 Juli dan berlangsung selama beberapa hari, menurut media pemerintah Iran.
Gencatan senjata berada dalam kondisi rapuh pekan lalu ketika AS dan Iran saling melancarkan serangan balasan menyusul serangan drone Iran terhadap sebuah kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.
Serangan tersebut merupakan tanda jelas bahwa Teheran berusaha mempertahankan tingkat kendali tertentu atas jalur perairan strategis tersebut, bertentangan dengan keinginan pemerintahan Trump. Perdebatan tersebut merupakan salah satu titik buntu utama dalam perundingan, bersama dengan masa depan program nuklir Iran.
Trump secara pribadi telah mempertimbangkan kemungkinan kembali ke perang total dengan Iran dan telah melakukan pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Dan Caine mengenai opsi militer, namun ia memilih untuk tetap melanjutkan perundingan untuk saat ini, demikian dilaporkan Wall Street Journal pada Selasa, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
“Ya, saya pikir mereka sudah melangkah jauh. Kami menyerang mereka dengan sangat keras pekan lalu. Saya pikir mereka baik-baik saja,” kata Trump pada Rabu ketika ditanya mengenai laporan tersebut. “Ini sangat sederhana, dan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
(bbn)





























