“Akan tetapi, kan balik lagi. Ini kan enggak seperti beli pisang goreng pagi turun harganya, langsung bisa dibeli, karena ada periode waktu tertentu dalam pembelian minyak ini,” lanjut dia.
Diprediksi Turun
Di sisi lain, ekonom mengestimasikan harga bensin RON 92 nonsubsidi milik Pertamina, alias Pertamax, berpotensi turun menjadi Rp15.500/liter pada periode penyesuaian 1 Juli 2026, seiring dengan melandainya harga minyak mentah dunia yang saat ini di rentang US$69—US$72 per barel.
Kendati begitu, penurunan harga Pertamax berisiko terganjal oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sebab setiap pelemahan rupiah langsung menaikkan biaya impor BBM.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat rerata harga Brent sepanjang tahun berjalan adalah US$87,9/barel dan rata-rata nilai tukar sepanjang tahun berjalan sebesar Rp17.195/US$.
Josua menghitung harga keekonomian Pertamax diprediksi sekitar Rp16.444/liter jika dihitung berdasarkan formulasi harga BBM nonsubsidi dan mengacu rata-rata realisasi harga minyak mentah dunia dan rupiah sepanjang tahun berjalan.
Akan tetapi, Josua menyatakan jika pemerintah dan PT Pertamina (Persero) lebih menimbang harga minyak terbaru di kisaran US$70/barel, ruang penurunan Pertamax terbuka hingga ke level Rp15.500/liter.
“Dengan pendekatan sederhana, penurunan Brent dari sekitar US$87,9 ke kisaran US$72—US$75 per barel dapat menekan harga keekonomian Pertamax cukup besar, tetapi sebagian tertahan oleh rupiah yang melemah ke sekitar Rp18.000/US$,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (30/6/2026).
Dia memprediksi, dengan dinamika penurunan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maka harga keekonomian Pertamax pada Juli 2026 bakal di kisaran Rp14.800—Rp15.300 per liter.
“Karena itu, jika ditanya harga Pertamax Rp16.250/liter sebaiknya turun ke level berapa, jawaban paling realistis adalah sekitar Rp15.500/liter,” tegas Josua.
Sekadar informasi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap tanggal 1, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Pada 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liternya di DKI Jakarta. Angka tersebut naik Rp3.950 per liternya apabila dibandingkan dengan harga awal sebesar Rp12.300 per liter.
Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026 belum sepenuhnya mengikuti harga pasar, sebab penyesuaian yang dilakukan baru sekitar 50% dari selisih harga keekonomian.
Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun mengungkapkan penetapan harga Pertamax tersebut sudah mengacu mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
"Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar, dan jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga Asean tetap lebih kompetitif agar menjaga daya beli dan perekonomian," terangnya melalui pernyataan perusahaan, Kamis (18/6/2026).
Dia juga menekankan Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan pasar minyak global, sesuai formula yang berlaku.
Roberth mengungkapkan ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan imbas perang yang sempat terjadi di Timur Tengah, pemerintah menahan harga BBM nonsubsisid jenis Pertamax.
Dengan begitu, kenaikan harga Pertamax yang dilakukan pada Juni dilakukan mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional, dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri.
Daftar Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026:
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Turbo: Rp20.750
- Pertamax Green 95: Rp17.000
- Dexlite: Rp23.000
- Pertamina Dex: Rp24.800
(azr/wdh)




























