“PIS mempersiapkan kedua kapal yakni Gamsunoro dan Pertamina Pride, bergerak melewati Selat Hormuz secara bertahap, mempertimbangkan berbagai risiko dan aspek keselamatan,” tambahnya.
Sebagai informasi, Pertamina Pride merupakan kapal tanker very large crude carrier (VLCC) atau supertanker yang memiliki kapasitas angkut 301.000 dead weight ton (DWT) atau sekitar 2 juta barel minyak mentah.
Kapal ini dibangun di Galangan Japan Marine United (JMU) sejak 2018 dan dilakukan serah terima pada akhir Maret 2021. Saat ini, tanker milik Pertamina tersebut dikelola oleh NYK Shipmanagement Pte Ltd.
PIS juga menegaskan bahwa pergerakan setiap kapal diputuskan berdasarkan penilaian risiko (risk assessment) yang ketat, kesiapan operasional, kondisi teknis, serta dinamika geopolitik di perairan setempat.
“Kami melihat pergerakan masing-masing kapal ditentukan berdasarkan penilaian terhadap risiko, kesiapan operasional, kondisi teknis dan dinamika perairan,” ungkap Vega.
Adapun untuk Gamsunoro, Vega menyebut saat ini masih menjalani hull cleaning untuk menjaga keandalan kapal, dan saat ini minyak yang dibawa fokus untuk melayani konsumen pihak ketiga.
“Gamsunoro masih menjalani hull cleaning untuk menjaga keandalan kapal, dan saat ini sedang melayani konsumen third party,” katanya.
Sebagai informasi, hull cleaning kapal adalah proses perawatan rutin untuk membersihkan bagian bawah lambung kapal yang terendam air dari biofouling (penumpukan organisme laut seperti alga, lumut, teritip, dan kerang).
Sebelumnya PIS mengumumkan kapal tanker Gamsunoro milik perseroan akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz, setelah tak dapat melintasi perairan tersebut gegara konflik di Timur Tengah.
Vega mengungkapkan kapal tersebut tertahan sejak awal Maret 2026 dan akhirnya berhasil melintasi titik kritis Selat Hormuz dengan aman pada Rabu (24/6/2026) pukul 20.00 WIB.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, atas dukungannya selama ini. Pemilihan waktu dan rute melintasi Selat Hormuz telah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat," ujar Vega dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
"Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru, sehingga diputuskan kapal dapat mulai bergerak dari Teluk Arab."
Vega menyatakan kapal tersebut menempuh perjalanan selama 16 jam untuk beranjak dari Teluk Arab, pada kemarin pukul 01.06 waktu Dubai atau sekitar pukul 04.06 WIB.
Kapal tersebut melaju dengan kecepatan 7,5 knot dan tiba di mulut Selat Hormuz sekitar pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 16.00 WIB.
Empat jam kemudian, kapal dinyatakan berhasil melintasi selat dan mencapai titik aman.
Vega menambahkan, selama pelayaran kapal dimonitor selama 24 jam penuh. Awak kapal di laut terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS untuk memastikan keamanan pelayaran.
Menurut Vega, perusahaan juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta otoritas terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi secara real time dan memastikan seluruh langkah operasional dilakukan secara hati-hati.
(smr/wdh)


























