Melemahnya sejumlah Bursa Saham Asia dan IHSG tersulut kabar dari sebuah kapal komersial yang dilaporkan diserang di Selat Hormuz. Insiden ini membangkitkan kembali kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran di perairan vital tersebut, biarpun proses negosiasi damai antara AS dan Iran masih terus berjalan.
Insiden ini menjadi serangan pertama yang dilaporkan setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan laporan konsultan keamanan yang dilansir Bloomberg News, kapal yang menjadi sasaran adalah Ever Lovely, sebuah kapal kontainer berukuran sedang yang mengibarkan bendera Singapura. Kapal tersebut mengalami hantam pada bagian lambung samping dan kerusakan di area anjungan saat sedang berlayar di tenggara Oman.
Kendati demikian, data pelacakan kapal memperlihatkan kapal tersebut masih mampu melanjutkan pelayaran melewati selat sempit itu pada Jumat dini hari.
Sementara itu, rilis data ekonomi AS yang lebih baik dari estimasi sejumlah analis/ekonom sempat menggairahkan sentimen risiko pasar secara luas, memicu sinyal higher–for–longer dengan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini.
Fluktuasi pasar baru-baru ini mempertegas meningkatnya kecemasan investor.
Indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), naik 0,4% pada Mei, lebih rendah dibanding prediksi median ekonom sebesar 0,5%. Secara tahunan, inflasi meningkat menjadi 4,1%, jauh berada di atas target The Fed sebesar 2%.
Laporan terpisah juga menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan sebesar 2,1% pada kuartal pertama, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Berbagai data terbaru turut meneguhkan Federal Reserve yang belum akan terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya. Pasar telah memperhitungkan adanya peluang kenaikan suku bunga AS, Federal Fund Rate (FFR), setidaknya 50 bps secara bertahap pada Oktober dan Desember.
(fad)




























