Herman mengungkapkan pada saat roadshow di China pertengahan Juni lalu ada lebih dari 15 investor institusi terkonfirmasi hadir dan berminat untuk membeli Panda Bond. Bahkan sejumlah underwriter disebut telah melakukan pemesan terlebih dahulu surat utang tersebut.
Adapun 15 investor institusi yang hadir dalam roadshow tersebut di antaranya Agricultural Bank of China, Zhongou Asset Management, ICBC Wealth Management, Minsheng Tonghui AMC, CITIC-Prudential Life Insurance Company, Bank of China Wealth Management, China Exim Bank, dan Harvest Fund Management.
“Paling tidak dari underwriternya mereka dengan confidence mereka ambil porsi yang mereka boleh beli, mereka beli sendiri. Sisanya kan harus dijual keluar,” ujarnya.
“Jadi itu suatu sign diantara other sign pada saat kita ketemu dengan investor-investor lain itu. Selain yang di underwriter bahwa minatnya cukup tinggi gitu.”
Herman menambahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam kunjungannya Negeri Panda kemarin juga sudah bertemu dengan Gubernur bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) Pan Gongsheng dan sudah melakukan diskusi soal perizinan penerbitan surat utang ini.
"Kemarin kita sudah ketemu dengan PBoC, karena kan perizinannya harus masuk juga ke PBoC ya. Pak Menteri (Purbaya) sudah ketemu dengan gubernur PBoC, beliau berkomitmen, oke kita bersedia untuk membantu, kita bisa cepat-cepat. Tapi kan tetap administrasi harus kita lakukan ya," jelas Herman.
Sebelumnya, Purbaya mengatakan penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pembangunan nasional agar tidak bergantung pada satu mata uang atau satu pasar keuangan tertentu.
"Kita ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan, sehingga tidak dipengaruhi oleh satu sumber mata uang saja. Ini juga sejalan dengan kerja sama transaksi mata uang lokal yang sudah terjalin antara Indonesia dan China," ujar Purbaya di Beijing seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (18/6/2026).
Dalam berbagai pertemuan tersebut, Purbaya juga menjelaskan kondisi perekonomian Indonesia yang tetap solid di tengah dinamika global. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional berada dalam kondisi yang sehat dan berbagai hambatan investasi yang sempat menjadi perhatian investor terus diperbaiki oleh pemerintah.
"Fundamental ekonomi Indonesia tidak ada masalah. Beberapa isu yang menjadi perhatian investor sudah direspons dan sedang diperbaiki oleh pemerintah sesuai arahan Presiden untuk menciptakan iklim investasi yang semakin baik," ujarnya.
Menkeu menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas sumber pembiayaan dan investasi dari berbagai negara tanpa terikat pada kepentingan geopolitik tertentu.
"Kita menerapkan prinsip non-alignment. Semakin banyak negara yang berinvestasi dan mendukung pembangunan Indonesia tentu semakin baik. China merupakan salah satu mitra penting, tetapi kita juga terus membuka peluang kerja sama dengan Amerika Serikat, Singapura, Eropa, dan negara-negara lainnya," imbuh dia.
(mfd/ell)





























