Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tersengat Data Inflasi AS

Tim Riset Bloomberg Technoz
26 June 2026 09:29

Ilustrasi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. dok: Bloomberg
Ilustrasi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah dalam sesi perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi sebesar 0,23% ke Rp17.969/US$. Rupiah melemah bersama hampir semua mata uang Asia, tersengat oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melonjak ke 4,1%. 

Indeks dolar AS bertahan tinggi di posisi 101,53. Penguatan dolar AS dipicu oleh ekspektasi langkah hawkish bank sentral AS, The Fed, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga 50 bps secara bertahap pada Oktober dan Desember. 

Langkah ini diperkirakan akan ditempuh The Fed demi meredam gejolak inflasi domestik, akibat kenaikan harga minyak beberapa bulan terakhir. Memang harga minyak mentah brent kembali mereda di level US$74,59 per barel, setelah ada kesepakatan damai antara AS dan Iran yang masih diwarnai ketegangan dengan penyerangan kapal kargo di Selat Hormuz baru-baru ini. 

Mata uang Asia, Jumat (26/6/2026). (Bloomberg)

Kondisi geopolitik ini membawa sentimen berbeda pada sebagian mata uang kawasan. Kala mayoritas mata uang Asia melemah, ringgit Malaysia melesat tertopang oleh data Foreign Direct Investment (FDI) yang melonjak 41,2% menjadi MYR65,9 miliar. 

Ada dua sektor yang menopang masuknya arus modal investasi langsung ke Malaysia. Pertama, sektor jasa seperti layanan keuangan, asuransi, dan teknologi informasi serta komunikasi. Kedua, sektor manufaktur yang fokus pada komponen kelistrikan dan elektronik, peralatan transportasi, dan manufaktur lainnya.