Logo Bloomberg Technoz

Donald Trump kembali menegaskan pada Rabu bahwa Teheran hanya akan dapat menggunakan miliaran dolar dana yang dicairkan dari rekening yang sebelumnya dibekukan untuk membeli bahan pangan dari Amerika Serikat. Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Republik Islam Iran telah menyetujui inspeksi terhadap fasilitas nuklirnya oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Iran membantah kedua pernyataan tersebut. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana kedua pihak menyampaikan klaim yang saling bertentangan mengenai isu-isu penting pada awal masa negosiasi yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari.

Terkait isu inspeksi, Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, meremehkan apa yang ia sebut sebagai “perang pernyataan” dan mengatakan dirinya yakin para inspektur badan tersebut pada akhirnya akan memperoleh akses penuh.

Saling bantah itu juga terjadi di tengah ketidakpastian mengenai pengelolaan masa depan Selat Hormuz.

Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melakukan perjalanan ke Muscat pada Rabu untuk mengikuti pembahasan yang melibatkan Iran, negara-negara Teluk, dan Irak, menurut seorang sumber yang mengetahui diskusi tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan karena informasi itu belum dipublikasikan.

Iran dan Oman pada Selasa menyatakan akan mulai menyusun kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz di masa depan, termasuk biaya yang berkaitan dengan pengelolaan lalu lintas pelayaran.

Para pedagang energi dan pemilik kapal khawatir terhadap kemungkinan penerapan tarif atau pungutan bagi kapal yang melintas. Industri pelayaran memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu akan melanggar hukum maritim internasional dan menciptakan preseden berbahaya yang dapat ditiru di jalur pelayaran strategis lainnya.

“Tidak ada negara yang diperbolehkan mengenakan tarif atau biaya di jalur perairan internasional,” kata Rubio saat tiba di Abu Dhabi pada Selasa. “Itulah yang kami harapkan akan berlaku di sini.”

Trump juga ikut menanggapi isu tersebut melalui Truth Social dengan mengatakan bahwa “tidak ada tarif, tidak ada biaya asuransi, dan tidak ada pungutan apa pun yang diminta atau diterima Iran dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.”

Namun, pernyataan Trump tidak menyinggung kemungkinan rencana Iran maupun negara-negara Teluk terkait pengelolaan selat tersebut di masa mendatang.

Untuk saat ini, semakin banyak kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan sistem sinyal satelit mereka tetap aktif, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan untuk mengirim kapal melalui jalur energi terpenting di dunia itu.

Harga minyak terus turun pada Rabu, dengan minyak mentah Brent diperdagangkan di bawah US$75 per barel untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai. Harga tersebut turun dari puncaknya sekitar US$125 per barel pada akhir April. Saat ini, patokan global tersebut diperdagangkan turun 4,5% ke level US$73,53 per barel.

Isu lain yang masih belum terselesaikan adalah perang Israel melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, yang menurut Teheran harus diakhiri agar kesepakatan permanen dapat dicapai. Israel menyatakan perlu mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan untuk melindungi komunitasnya di wilayah utara dari ancaman kelompok tersebut, sementara Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan sementara yang telah dicapai.

Putaran kelima pembicaraan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon berlangsung di Washington pekan ini. Menurut Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Yechiel Leiter, pembahasan tersebut menjadi lebih rumit akibat ketentuan dalam kesepakatan AS-Iran.

Israel memandang pelucutan senjata Hizbullah dan penarikannya dari Lebanon selatan sebagai syarat dasar dalam perundingan, kata Leiter dalam pernyataan tertulis.

“Izinkan saya menegaskan: Israel akan bertindak terhadap ancaman yang langsung maupun yang sedang berkembang terhadap warga dan tentaranya,” ujarnya.

Pernyataan Trump mengenai kondisi negosiasi dengan Iran mencerminkan sikap defensif presiden AS tersebut terhadap kesepakatan yang kini menuai kritik, termasuk dari kalangan pendukung kebijakan pertahanan garis keras di partainya sendiri.

Penegasannya bahwa dana yang dicairkan akan digunakan untuk membeli produk pertanian AS berpotensi menarik dukungan para petani, salah satu basis pemilih penting Partai Republik, menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Senat yang dikuasai Partai Republik pada Selasa memberikan suara untuk mengakhiri konflik tersebut, sebuah teguran simbolis yang jarang terjadi terhadap Trump. Meskipun resolusi itu kemungkinan tidak akan memaksa perubahan strategi pemerintah, langkah tersebut menjadi tanda terbaru bahwa pendekatan presiden tidak sepenuhnya mendapat dukungan di dalam negeri.

Sejumlah pengkritik nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu khawatir Republik Islam Iran justru akan menggunakan dana tersebut untuk membangun kembali kekuatan militernya dan terus mendukung kelompok-kelompok seperti Hizbullah.

Iran menyatakan bahwa dana beku senilai US$12 miliar akan dicairkan dalam dua tahap yang sama besar, menurut laporan kantor berita Mehr yang mengutip Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Hingga kini, Amerika Serikat belum mengonfirmasi berapa jumlah dana yang akan diterima Republik Islam Iran tersebut.

(bbn)

No more pages