Pengumuman tersebut dinilainya hanya sebatas memberi kabar gembira sesaat kepada pengrajin tahu dan tempe Tanah Air yang sebelumnya sempat tertekan akibat konflik geopolitik Timur Tengah.
Dia mengatakan kenaikan harga kedelai hingga Rp12.000/kg cukup sulit saat ini, kecuali ada beberapa kejadian luar biasa yang membuat harga terdongkrak naik.
"Harusnya tidak perlu ada syarat kalau mau ngasih. Ekonomi kita sedang susah kan. Kasihan pengrajin jadi cuma berharap saja. Jadi belum dinikmati. Persyaratan seperti itu membuat subsidi tidak terealisasi," tutur dia.
"Mending tidak usah kasih. Toh orang syaratnya saja jauh kalau mau sampai di harga Rp12.000 masih panjang perjalannya. Sesuatu yang tidak mungkin kecuali ada kejadian yang luar biasa."
Diminta Tahan Harga
Apalagi, kata dia, pemerintah belakangan juga masih meminta importir untuk menjaga harga kedelai tetap stabil. Dengan kata lain, harga yang dijual tidak melebihi HAP pemerintah.
Permintaan tersebut juga dilakukan lewat surat pemanggilan pemerintah melalui Kementerian Pertanian kepada importir dan para pengrajin tahun dan tempe pada 9 Apil 2026 lalu.
Dari hasil tersebut, muncul surat komitmen bersama yang telah ditandatangani sebanyak 12 perusahaan importir dari total 15 perusahaan yang dipanggil.
Sementara, pengrajin adanya Gakoptindo dan Asosiali Kedelai Indonesia (Akindo). Dari sisi pemerintahnya ada Dirjen Tanaman Pangan Kementan beserta jajaran Direkturnya.
Isinya yakni komitmen menciptakan stabilisasi pasokan dan harga kedelai dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Menjaga harga ditingkat importir sesuai dengan HAP maksimal Rp11.500/kg sehingga harga ditingkat konsumen (pengrajin tahu dan tempe) stabil tidak melebihi HAP sebesar Rp12.000/kg, sampai dengan adanya kebijakan berikutnya.
2. Menjaga ketersediaan pasokan kedelai sebagai bahan baku industri tahun tempe.
"Demikian komitmen bersama ini dibuat untuk dapat dilaksanakan dalam rangka mewujudkan stabilisasi pasokan dan harga kedelai," tulis surat yang diterima Bloomberg Technoz.
Sebelumnya, Pemerintah resmi memberikan subsidi kepada produsen atau pengrajin tahu dan tempe sebagai bagian dari pemberian paket stimulus masyarakat selama periode semester kedua tahun ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemberian subsidi diberikan sebesar Rp2.000 per kilogram (kg) dari setiap produksi dengan kuota hingga mencapai 250.000 ton.
Airlangga mengatakan, pemberian subsidi tersebut dilakukan apabila harga kedelai, sebagai bahan bakunya, mengalami kenaikan dari harga acuan yang ditentukan oleh pemerintah. Saat ini, kebutuhan kedelai dalam negeri mencapai sekitar 2,5 juta ton yang seluruhnya masih diimpor.
Program tersebut, kata dia, juga telah mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah antisipasi lonjakan biaya produksi pengrajin imbas kenaikan harga kedelai beberapa waktu lalu karena ketegangan konflik geopolitik Timur Tengah.
"Kita ketahui kita beli kebutuhannya adalah 2,5 juta ton per tahun, namun kita siapkan 250 ribu dengan subsidi Rp2 ribu per kilogram yang nantinya akan diberikan apabila harga kedelainya di atas harga acuan pembelian," ujarnya, belum lama ini.
(ain)
































