Pasar Asia juga tengah menanti kabar data inflasi Jepang yang akan menggerakkan kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Menurut Bloomberg Economics, Jepang diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan menjadi 1,25%, pada Desember 2026, dari level saat ini sebesar 1%.
Sementara dari dalam negeri, pemerintah RI dikabarkan akan kembali memberika stimulus ekonomi, demi mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini.
Anggaran yang digelontorkan tak tanggung-tanggung, sebesar Rp472,2 miliar, yang diberikan melalui insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100%. Insentif ini diberikan bagi pembeli tiket pesawat domestik kelas ekonomi, dengan target penerima manfaat 2,3 juta penumpang.
Selain itu, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp190,5 miliar. Anggaran ini diberikan dalam bentuk diskon tarif transportasi darat dan laut dengan target penerima manfaat mencapai 3,07 juta orang.
Di tengah beban defisit fiskal yang masih menggelayuti, pemerintah baru berhasil mengantongi 39,6% dari target pajak tahunan hingga pertengahan Juni, menjadi Rp940,3 triliun.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan dalam lawatan ke China, disebut telah berhasil mengamankan komitmen pendanaan senilai US$17 miliar atau sekitar Rp303,55 triliun dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Namun, komitmen ini diberikan dalam bentuk kredit bukan hibah, sehingga dapat menambah beban utang eksternal. Ditambah, hambatan birokrasi juga dapat berpotensi menunda pencairan proyek dan manfaat ekonomi dari pendanaan tersebut, seperti disebut Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Fokus pelaku pasar hari ini akan tertuju pada vonis MSCI terkait apakah bursa saham Indonesia akan turun menjadi frontier market. Klasifikasi yang akan membuat aliran modal investor global menyusut di pasar saham domestik.
Sebelumnya, pada 18 Juni 2026, MSCI telah merilis hasil Global Market Accessbility Review yang menyoroti aspek transparansi informasi di pasar saham Indonesia, meski status emerging markets masih tetap bisa disandang RI.
Pekan ini, MSCI dijadwalkan akan merilis Annual Market Classification Review. Pengumuman ini menjadi perhatian pelaku pasar, karena akan menjadi penentu apakah status pasar saham Indonesia bertahan sebagai emerging markets, atau berisiko turun. MSCI akan merilis klasifikasi tersebut pada 23 Juni mendatang waktu setempat, atau 24 Juni dini hari waktu Indonesia.
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah sejatinya ada asa peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp17.750/US$, resistance potensial selanjutnya menuju Rp17.700/US$ usai break trendline sebelumnya.
Rupiah juga terdapat level Rp17.600/US$ sebagai acuan paling optimistis penguatan rupiah di dalam time frame daily, tren jangka menengah (mid-term) atau dalam sepekan perdagangan.
Jika nilai tukar rupiah kembali menembus level support terkuatnya pada level Rp17.800/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp17.900/US$ hingga support psikologis Rp18.000/US$.
(riset)



























