Pertemuan tingkat tinggi pertama yang melibatkan perwakilan Amerika Serikat, Iran, Qatar, dan Pakistan dibuka di resor Bürgenstock, Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi termasuk di antara para peserta.
Saat pertemuan berlangsung, Trump melalui media sosial mengatakan bahwa ia akan kembali menyerang Iran jika negara itu tidak “segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon untuk membuat kekacauan.”
Trump juga memperingatkan bahwa AS mungkin akan mulai mengenakan biaya transit jika tidak tercapai kesepakatan. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, ia mengatakan telah memperingatkan para pemimpin Iran secara langsung bahwa jika mereka menutup Selat Hormuz, “Kalian bahkan tidak akan sempat kembali” ke Iran, sambil menggunakan kata-kata kasar.
Harga minyak naik setelah ancaman tersebut. Minyak Brent sempat melonjak hingga 2,2% pada pembukaan perdagangan menjadi US$82,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$77 per barel.
Meski kesepakatan sementara yang diperjuangkan dengan susah payah telah menandai jeda permusuhan antara AS dan Iran, diskusi pada Minggu diperkirakan baru menjadi awal dari proses negosiasi panjang yang akan mencakup berbagai isu, mulai dari kemampuan nuklir Iran hingga keringanan ekonomi bagi Teheran.
“Apa yang terjadi hari ini pada dasarnya adalah awal dari negosiasi teknis yang tidak akan menyelesaikan seluruh perbedaan pendapat,” kata Vance kepada wartawan. Ia berbicara bersama pejabat Pakistan dan Qatar yang bertindak sebagai mediator. Jared Kushner dan Steve Witkoff, dua negosiator global Trump, juga terus terlibat dalam pembicaraan teknis.
Menurut seorang pejabat yang mengetahui jalannya pembahasan, penyelesaian konflik di Lebanon akan menjadi faktor penentu keberhasilan perundingan AS-Iran di Swiss. Karena itu, hasil positif negosiasi pada akhirnya juga bergantung pada dukungan Israel. Menurut sumber tersebut, hanya penarikan pasukan Israel dari Lebanon yang dapat sepenuhnya memastikan kesepakatan sementara ini dapat berjalan.
Israel tidak menjadi pihak dalam perundingan yang menghasilkan kesepakatan sementara tersebut.
Isu lain yang menjadi fokus pembahasan adalah Selat Hormuz, sanksi AS, serta pengembalian aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Pemerintah Swiss disebut tetap menyiapkan lokasi perundingan hingga Senin pagi agar negosiasi dapat diperpanjang jika diperlukan.
Para utusan Iran juga disebut sangat memperhatikan bagaimana pertemuan ini akan dipersepsikan di dalam negeri. Karena itu, delegasi Iran memilih tidak berada di ruangan yang sama dan menolak berpartisipasi dalam sesi pembukaan yang disiarkan televisi sebelum diskusi dimulai. Mereka tidak ingin terlihat berjabat tangan dengan delegasi AS sebelum ada kesepakatan yang dicapai.
Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa salah satu tantangan utama untuk mempertemukan kedua negara di meja perundingan adalah menjembatani perbedaan cara pandang yang sangat besar antara perwakilan Iran dan Amerika Serikat.
“Pertemuan ini akan memungkinkan kami duduk bersama sebagai tim untuk pertama kalinya dalam sejarah, guna memahami apa yang paling penting bagi masing-masing pihak, menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” ujar Vance.
Kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, melaporkan bahwa topik utama pembicaraan adalah “gencatan senjata komprehensif” di Lebanon, termasuk penarikan pasukan Israel, serta nasib miliaran dolar aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Pada Sabtu, Teheran menuduh Israel melanggar gencatan senjata di Lebanon dan menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global, akan kembali ditutup. Namun, meskipun pengumuman tersebut dibuat, jutaan barel minyak tetap mengalir melalui jalur pelayaran itu.
Berdasarkan memorandum kesepahaman yang ditandatangani Trump pada Rabu, AS dan Iran memiliki waktu 60 hari untuk bernegosiasi, meskipun kesepakatan tersebut memungkinkan adanya perpanjangan.
Pernyataan Iran mengenai penutupan Selat Hormuz memang membayangi perundingan, tetapi dampak langsung terhadap lalu lintas kapal masih belum jelas. Bahkan sebelum gencatan senjata terbaru berlaku, jutaan barel minyak tetap keluar melalui jalur tersebut setiap hari.
Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan tiga kapal tanker raksasa yang terkait dengan India kembali muncul di Teluk Oman pada Minggu setelah sebelumnya mengirim sinyal upaya melintasi selat tersebut pada Jumat.
Ketiga kapal tanker yang masing-masing membawa muatan menuju India atau dimiliki pihak terkait India itu mengangkut hampir 6 juta barel minyak dari Irak dan Kuwait. Upaya mereka berlayar menuju Pulau Qeshm mengindikasikan kemungkinan mereka menggunakan jalur yang telah disetujui Teheran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz meningkat pada Sabtu, dengan 55 kapal niaga mengangkut kargo dan lebih dari 17 juta barel minyak melintasi jalur tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada Fox News Sunday bahwa AS masih mengawal kapal-kapal yang melintas dan “menunjukkan bahwa kami dapat melewati selat itu dengan atau tanpa” Iran.
Israel, mitra Washington dalam perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari, juga tengah menjalankan kampanye militer terpisah melawan Hezbollah di Lebanon. Iran secara konsisten berupaya mengaitkan konflik di Lebanon—yang telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi—dengan negosiasi yang lebih luas bersama AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, seperti dikutip kantor berita IRNA, mengatakan Teheran memandang AS memiliki “tanggung jawab langsung” atas situasi di Lebanon dan tindakan militer Israel.
Israel bersikeras akan mempertahankan pasukannya di wilayah perbatasan hingga benar-benar yakin bahwa Hezbollah, yang oleh AS ditetapkan sebagai organisasi teroris, tidak lagi menjadi ancaman. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan operasi terbaru mereka menargetkan jaringan bunker bawah tanah yang diduga menjadi tempat persembunyian para pejuang Hezbollah.
“Tidak pernah ada, dan tidak ada saat ini, pembatasan bagi tentara IDF di Lebanon untuk bertindak menghilangkan ancaman,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Minggu.
“Pasukan kami tetap ditempatkan di zona keamanan sepanjang Garis Kuning di Lebanon dan beroperasi dari sana melawan teroris serta infrastruktur teroris,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik diri.
Trump sebelumnya telah menyampaikan frustrasinya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan-serangan sebelumnya yang dinilai berisiko merusak perundingan AS-Iran.
“Israel memiliki hak untuk membela diri,” kata Vance kepada wartawan pada Kamis. “Namun pada dasarnya, Israel, sama seperti pihak lainnya, harus menghormati proses perdamaian ini yang pada dasarnya baik bagi mereka dan baik bagi seluruh kawasan.”
Memorandum AS-Iran membuat Washington mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan berjanji memberikan pengecualian sanksi yang selama ini menghambat penjualan minyak mentah Iran. Sebagai gantinya, Iran berjanji membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, Teheran memperingatkan bahwa kapal-kapal yang melintas harus memperoleh izin dari Iran dan memiliki asuransi wajib. Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan negara-negara Arab Teluk menolak gagasan Iran untuk mengenakan biaya tersebut.
Meski demikian, Vance mengatakan kedua pihak telah membuat “kemajuan besar” dalam beberapa jam terakhir.
“Saya memperkirakan kemajuan tambahan akan tercapai dalam beberapa jam ke depan,” ujarnya.
(bbn)



























