Shan juga menilai bahwa Indonesia memiliki posisi yang berbeda dibandingkan banyak negara berkembang lainnya karena mampu menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan global.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar yang sempat terjadi beberapa waktu lalu tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Sebaliknya, penguatan kembali rupiah menunjukkan daya tahan ekonomi nasional terhadap gejolak eksternal.
“Kita telah menyaksikan sejak 5 Juni ketika Rupiah Indonesia diperdagangkan di level 18.200 dan sekarang diperdagangkan di level 17.689. Rupiah Indonesia sebenarnya telah menguat 2,8% dalam 10 hari terakhir terhadap USD,” kata Shan.
Lebih jauh, ia menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang akan menjadi motor utama pertumbuhan ASEAN dalam dekade mendatang. Bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam, Indonesia masuk dalam kelompok yang ia sebut sebagai “Fabulous Five”.
“Secara keseluruhan saya optimis terhadap ASEAN, tetapi kelima negara ini, mereka menyumbang 90% terhadap demografi ASEAN,” ujarnya.
Menurut Shan, kombinasi populasi besar, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, serta meningkatnya investasi asing menjadikan Indonesia tetap relevan dalam peta ekonomi global.
Ia bahkan menilai Indonesia akan terus menjadi tujuan investasi yang menjanjikan selama bertahun-tahun ke depan. Hal tersebut didukung oleh stabilitas fiskal, moneter, dan politik yang relatif terjaga.
“Indonesia terus berada dalam radar pantauan investor global,” tegasnya.
Untuk informasi selengkapnya saksikan: Bloomberg Technoz Exclusive Interview: Menjaga Kepercayaan, Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi RI.
(red)




























