Dari sisi ketenagakerjaan, hampir setengah responden atau 48,9% menilai AI telah menciptakan peluang kerja baru. Sebanyak 26,3% responden merasakan peningkatan keamanan kerja karena dukungan teknologi.
Sedangkan 39,4% melaporkan perubahan tanggung jawab pekerjaan akibat otomatisasi dan integrasi AI.
Namun, kekhawatiran terhadap dampak negatif AI juga cukup tinggi. Sekitar 24,6% responden mengaku khawatir teknologi tersebut dapat menyebabkan pengurangan tenaga kerja atau menggantikan sebagian pekerjaan manusia.
Penelitian menemukan makin tinggi tingkat adopsi AI di suatu organisasi, makin besar pula kekhawatiran pekerja terhadap kemungkinan terjadinya disrupsi pekerjaan.
Dampak AI terhadap tingkat upah juga menjadi sorotan utama. Penelitian menemukan pekerja dengan keterampilan tinggi memperoleh manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan pekerja berkeahlian rendah.
Rata-rata pertumbuhan upah tahunan pekerja berkeahlian rendah hanya mencapai 2,8%, sedangkan pekerja berkeahlian menengah menikmati kenaikan rata-rata 5,1%. Adapun pekerja berkeahlian tinggi mencatat pertumbuhan upah rata-rata sebesar 8,7% per tahun.
Data tersebut menunjukkan, manfaat ekonomi dari AI tidak terdistribusi secara merata. Pekerja yang memiliki kemampuan teknis, analisis data, pemrograman, atau keterampilan digital lanjutan cenderung memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan pekerja yang menjalankan tugas rutin dan mudah diotomatisasi.
Penelitian juga menemukan hubungan langsung antara tingkat adopsi AI dengan pertumbuhan upah. Organisasi dengan tingkat penggunaan AI yang tinggi mencatat pertumbuhan upah rata-rata sekitar 8,7%, jauh di atas perusahaan dengan tingkat adopsi rendah yang hanya sekitar 2,9%.
Selain keterampilan, pelatihan AI terbukti menjadi faktor penting dalam meningkatkan keamanan kerja. Responden yang pernah mengikuti pelatihan AI memiliki skor persepsi keamanan kerja rata-rata 4,1 dari skala 5. Sementara mereka yang belum pernah mengikuti pelatihan hanya mencatat skor 2,9.
Analisis statistik dalam penelitian tersebut menunjukkan tingkat keterampilan pekerja menjadi faktor paling berpengaruh terhadap pertumbuhan upah, diikuti oleh tingkat adopsi AI dan partisipasi dalam program pelatihan AI. Ketiga faktor tersebut terbukti memiliki korelasi positif terhadap peningkatan pendapatan pekerja.
Dalam kesimpulannya, peneliti menyebut AI bukan hanya teknologi yang menggantikan pekerjaan manusia, melainkan juga menciptakan jenis pekerjaan baru dan meningkatkan produktivitas.
Namun tanpa program peningkatan keterampilan yang memadai, manfaat ekonomi AI berisiko terkonsentrasi pada kelompok pekerja tertentu dan memperlebar ketimpangan pendapatan.
“AI menghadirkan peluang kerja baru untuk posisi yang sangat terampil, tetapi juga dapat mendorong ketidaksetaraan upah dan masalah perpindahan pekerjaan untuk pekerja berketerampilan rendah,” tulis peneliti dalam ringkasan hasil studinya.
Penelitian itu merekomendasikan pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan untuk memperluas program pelatihan serta reskilling tenaga kerja agar lebih siap menghadapi transformasi pasar kerja berbasis AI.
Menurut peneliti, investasi pada peningkatan keterampilan menjadi kunci agar manfaat AI dapat dirasakan secara lebih merata dan tidak hanya menguntungkan pekerja berkeahlian tinggi.
(mef/naw)





























