Logo Bloomberg Technoz

Tercatat masih ada penguatan 258 saham, dan sebanyak–banyaknya 419 saham terjadi pelemahan. Sisanya 137 saham stagnan.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini, pelemahan saham BBRI, saham BBCA, hingga saham BMRI. Adapun saham infrastruktur, saham keuangan, dan saham kesehatan melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 1,95%, 1,32% dan juga 1,07%.

Saham–saham big caps jadi pemberat IHSG hingga menempati top losers:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 18,92 poin
  2. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 18,89 poin
  3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 18,83 poin
  4. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 5,86 poin
  5. PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) mengurangi 2,9 poin
  6. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengurangi 2,27 poin
  7. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mengurangi 1,95 poin
  8. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) mengurangi 1,63 poin
  9. PT Mayapada Hospital Tbk (SRAJ) mengurangi 1,62 poin
  10. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 1,57 poin

Sentimen BI Rate yang kembali naik 25 bps ke level 5,75% langkah lanjutan dari BI untuk makin memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan kekhawatiran investor terhadap saham–saham sektor properti, otomotif, dan juga berdampak negatif bagi sektor perbankan, apabila berlangsung dalam waktu yang berkepanjangan, turut melengkapi pelemahan IHSG pada hari ini.

Mengutip Panin Sekuritas, pasar juga masih cenderung wait and see menjelang keputusan kunci mendatang sebagai momentum pergerakan. Seperti review status pasar Indonesia oleh MSCI besok, Jumat (19/6/2026), dengan base case Indonesia tetap bertahan di Emerging Market, dan MSCI Market Accessibility Review pada pekan depan, Rabu (24/6/2026).

Dua pengumuman penting tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.

Lebih lanjut, menyitir Samuel Sekuritas, skenario dasar (base case): Indonesia tetap berstatus Emerging Market, dalam tinjauan MSCI tanpa dimasukkan ke dalam daftar pemantauan (watchlist).

“Tinjauan ini pada dasarnya menjadi penilaian MSCI terhadap efektivitas berbagai reformasi pasar yang telah dilakukan Indonesia,” terang Samuel dalam riset terbarunya, Kamis.

  • Kewajiban pengungkapan kepemilikan saham sebesar 1%;
  • Implementasi High Shareholding Concentration (HSC);
  • Peta jalan (roadmap) peningkatan free float 15%

Adapun tinjauan Agustus 2026 menjadi ujian berikutnya bagi IHSG, papar Samuel. Apabila hasil tinjauan Juni esok hari bersifat positif, maka review Agustus 2026 akan menjadi ujian praktis pertama atas proses normalisasi tersebut.

(fad/wep)

No more pages