Logo Bloomberg Technoz

“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi”, lanjut Roberth.

Suasana SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Roberth mengungkapkan ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan imbas perang yang sempat terjadi di Timur Tengah, pemerintah menahan harga BBM nonsubsisid jenis Pertamax.

Dengan begitu, kenaikan harga Pertamax yang dilakukan pada Juni dilakukan mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional, dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri.

“Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat,” kata dia.

Lebih lanjut, Roberth menjelaskan evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap bulan, mengikuti perkembangan parameter keekonomian.

“Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

Pertamina mengumumkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter pada Rabu (10/6/2026).

Keputusan itu diambil setelah Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Di sisi lain, Roberth sempat mengonfirmasi negara bakal memberikan kompensasi energi atas selisih nilai keekonomian Pertamax dengan harga jualnya, usai perseroan menahan harga bensin RON 92 nonsubsidi tersebut sejak 1 April 2026.

Roberth mengungkapkan harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter. Namun, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April.

Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu.

Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.

“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan.”

Diprediksi Ekonom

Adapun, Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengestimasikan harga keekonomian ideal untuk Pertamax saat ini sebenarnya berada di kisaran Rp16.500/liter.

Dengan demikian, kenaikan harga Pertamax sebesar 32% dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter dinilainya masih berada di bawah harga pasar bensin nonsubsidi RON 92 itu.

"Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250/liter," ujar Josua saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).

Josua menambahkan harga keekonomian Pertamax yang tinggi dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia dalam beberapa bulan terakhir yang melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di level US$70/barel.

Pada saat bersamaan, kondisi tersebut diperparah oleh adanya tekanan depresiasi nilai tukar rupiah yang cukup dalam.

Meski belum sepenuhnya mencapai parity price (harga setara pasar), kenaikan harga Pertamax yang agresif sebesar 32% dari posisi sebelumnya dinilai berhasil mengamankan neraca keuangan korporasi negara dari potensi kerugian yang lebih besar.

(azr/wdh)

No more pages