“Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti olahraga,” kata Parisi, salah satu dari perempuan tersebut, seorang imigran asal Iran yang menolak menyebutkan nama belakangnya karena suasana politik yang memanas. “Tetapi kami patriotik. Kami mencintai negara kami. Kami mencintai tim kami.”
Iran menempati peringkat ke-20 dunia menjelang pertandingan Senin tersebut, dibandingkan dengan Meksiko selaku tuan rumah di peringkat ke-13, Amerika Serikat di peringkat ke-15, dan Kanada di peringkat ke-31.
Namun, kesetiaan kepada Team Melli jauh dari kata universal. Perpecahan di kalangan diaspora Iran semakin dalam selama konflik AS-Iran, yang menghadirkan latar belakang Piala Dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya: pertama kalinya sebuah negara yang sedang berperang bermain di wilayah negara yang menjadi lawannya dalam perang tersebut.
Para demonstran sempat bersorak dan menari di sepanjang Westwood Boulevard setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang pada Februari. Namun suasana berubah ketika pertempuran berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Alih-alih runtuh, rezim Islam di Iran justru memperkuat cengkeramannya atas kekuasaan. Gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pekan ini untuk memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz mengecewakan para penentang Republik Islam Iran dan memicu sentimen negatif baru terhadap tim nasional negara tersebut.
“Pihak yang kalah adalah rakyat Iran,” kata Roozbeh Farahanipour, yang melarikan diri ke Los Angeles dari Iran setelah memimpin pemberontakan mahasiswa yang gagal pada 1999.
Farahanipour menolak menonton Team Melli karena menurutnya tim tersebut merepresentasikan rezim yang telah ia lawan selama puluhan tahun.
“Saya tidak bisa menghormati lagu kebangsaan atau seragam Republik Islam,” kata Farahanipour, yang memiliki restoran Amerika dan Yunani di Westwood Boulevard. “Sikap saya jelas: saya tidak menonton, atau saya mendukung tim lawan.”
Bagi sebagian orang lainnya, pertandingan Piala Dunia di Los Angeles justru memunculkan kekhawatiran baru.
Farsi Cafe di Los Angeles dipadati pengunjung ketika mengadakan acara nonton bareng pertandingan Iran di Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun tahun ini, pemiliknya, Hossein Daei, tidak akan menggelar acara besar serupa karena khawatir para penentang Republik Islam Iran akan salah menafsirkan dukungan terhadap tim nasional sebagai dukungan terhadap rezim yang berkuasa.
“Saya takut orang-orang akan memecahkan jendela dan merusak bisnis saya,” katanya. “Orang-orang Iran sekarang terpecah.”
Puluhan pengunjuk rasa berkumpul di luar stadion yang berkapasitas sekitar 70.000 penonton sebelum pertandingan pada Senin. Mereka mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran sebelum Revolusi 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran. Aparat penegak hukum pun bersiaga menghadapi potensi bentrokan.
“Informasi dan intelijen kami bekerja ekstra keras,” kata Robert Luna dalam konferensi pers pada 1 Juni. “Kami menerapkan pendekatan yang kami sebut all-hazards approach, yang berarti kami harus siap menghadapi segala kemungkinan atau tantangan yang dapat terjadi.”
Biaya pengamanan Piala Dunia bagi Kota Inglewood mencapai sekitar US$1 juta per pertandingan, yang menurut Wali Kota James Butts telah dijanjikan akan ditanggung oleh FIFA.
Inglewood menjadi tuan rumah 12 pertandingan tahun ini. Kota tersebut sudah terbiasa menangani acara berskala besar setelah menjadi tuan rumah Super Bowl LVI pada 2022, konser Taylor Swift pada 2023, dan Beyoncé tahun lalu. Kota ini juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Super Bowl LXI serta sejumlah ajang dalam 2028 Summer Olympics.
Menurut pernyataan pemerintah, US Department of Homeland Security bekerja sama dengan aparat penegak hukum setempat untuk memastikan keamanan pertandingan sekaligus menjamin kebebasan berekspresi.
“Amandemen Pertama melindungi kebebasan berbicara dan berkumpul secara damai — bukan kerusuhan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “DHS mengambil langkah-langkah yang tepat dan sesuai konstitusi untuk menegakkan supremasi hukum serta melindungi petugas dan masyarakat dari perusuh yang berbahaya.”
Amerika Serikat telah membatasi pemberian visa bagi pemain Iran dan sejumlah kecil staf tim, dengan mengecualikan beberapa pejabat senior Iran Football Federation.
“Kami tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih yang tidak benar,” kata US Department of State dalam tanggapan atas pertanyaan yang diajukan media.
Di sisi lain, pihak Iran juga mungkin mengkhawatirkan ancaman keamanan fisik atau pembelotan. Tujuh anggota tim nasional sepak bola wanita Iran membelot saat mengikuti turnamen di Australia pada Maret lalu. Namun, sebagian besar dari mereka kemudian mencabut permohonan suaka mereka setelah mendapat tekanan dari rezim Iran.
Anggota tim Iran mengatakan bahwa pembatasan akses mereka ke Amerika Serikat membuat mereka lebih sulit untuk berkompetisi. Menurut pelatih Iran, Amir Ghalenoei, kebijakan tersebut juga bertentangan dengan semangat Piala Dunia. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers pada Minggu setelah timnya tiba di wilayah Los Angeles dari pusat latihan mereka di Tijuana, Meksiko.
“Tanpa keraguan, ini akan berdampak negatif terhadap semangat sepak bola,” kata Ghalenoei. “Sepak bola seharusnya menyatukan bangsa dan budaya.”
FIFA telah melarang ekspresi politik di dalam stadion, termasuk penggunaan tanda, spanduk, dan pakaian tertentu seperti bendera Singa dan Matahari. Pada Senin, seorang hakim Pengadilan Tinggi Los Angeles County menolak permohonan untuk mengizinkan bendera tersebut melalui gugatan yang diajukan oleh sekelompok warga Amerika keturunan Iran, menurut Shahrokh Mokhtarzadeh, pengacara yang mewakili para penggugat.
Mokhtarzadeh mengatakan pihaknya belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atas putusan tersebut.
(bbn)





























