Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST) Zulkurniadi menambahkan, implementasi co-firing tidak mengubah sistem operasional PLTU yang sudah berjalan.
Alasannya, operasional PLTU telah didukung penggunaan boiler tipe circulating fluidized bed (CFB) yang dimiliki PLTU Banko Barat.
Zulkurniadi menyatakan meskipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan dengan batu bara, performa dan keandalan pembangkit tetap terjaga.
Adapun, Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan biomassa dengan nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram, sehingga dapat mendukung proses pembakaran tanpa menurunkan kualitas energi.
Sementara itu, PLTU Mulut Tambang Banko Barat dimiliki oleh perseroan dan berlokasi di Tanjung Enim. Pembangkit listrik tersebut memiliki kapasitas 3x10 megawatt (MW).
Sekadar informasi, Kementerian ESDM mencatat penggunaan co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara sebagai bahan bakar pendamping telah diadopsi 47 PLTU per Oktober 2025.
Plt. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan volume biomassa yang berhasil digunakan melalui teknologi co-firing mencapai 1,8 juta ton dan menghasilkan listrik sekitar 1,78 juta megawatt hour (MWh).
“Langkah ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, di mana pada tahun 2020 hanya 6 pembangkit yang melakukan co-firing. Pada saat ini, sampai akhir Oktober 2025, jumlahnya melonjak menjadi 47 pembangkit,” kata Tri dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, Kamis (13/11/2025).
Di sisi lain, per April 2026 kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga biomassa (PLBm) tercatat mencapai 3,67 gigawatt (GW) atau 3% dari total pembangkit RI.
Sementara itu, porsi listrik dari PLTU batu bara mendominasi dengan porsi 56% atau sebesar 60,53 GW.
(azr/wdh)






























