"Jadi, persoalan utama bukan hanya berapa besar utangnya, tetapi apakah utang tersebut menghasilkan tambahan pendapatan, devisa, dan kapasitas ekonomi yang memadai," kata Josua.
Dalam konteks ini, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menjadi indikator penting untuk menilai seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output ekonomi. Sebab, semakin tinggi ICOR, semakin banyak mmodal yang harus dikeluarkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sama.
Dalam beberapa tahun terakhi, ICOR Indonesia berada pada kisaran 6,3 hingga 6,5. "Jika ULN naik tetapi ICOR tetap tinggi, ada risiko bahwa tambahan pembiayaan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kenaikan output yang optimal," sebut Josua.
Dia menyebut, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan produktivitas, kualitas proyek, perizinan, logistik, koordinasi pusat-daerah, serta kualitas belanja dan investasi.
Secara ideal, utang luar negeri seharusnya membantu menurunkan ICOR apabila dipakai untuk memperbaiki produktivitas. Misalnya, membangun pelabuhan, listrik, irigasi, kawasan industri, jalan logistik, pendidikan vokasi, dan industri bernilai tambah.
Tetapi jika utang naik sementara ICOR tetap tinggi, maka utang hanya menambah kewajiban tanpa memperbaiki kemampuan ekonomi menghasilkan output.
“Dalam jangka panjang, pola seperti ini bisa menekan ruang fiskal, memperbesar kebutuhan devisa, dan membuat ekonomi lebih rentan terhadap gejolak kurs,” kata Josua.
(dsp/aji)


























