"Nah, kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," tambah Bahlil.
Dalam kesempatan yang sama Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan program ini masih dalam tahap penggodokan intensif.
Pemerintah saat ini sedang melakukan penghitungan dan kajian mendalam bersama sejumlah pihak terkait.
"Belum sejauh itu, kompor listrik itu baru mau dikonsepkan dulu. Kita masih berhitung, makanya tadi anggaran memang sudah ada indikatifnya. Namun, kita baru mau diskusi dengan Bappenas, karena sekarang paralel sedang melakukan kajian untuk konversi kompor listrik," ujar Eniya.
Ihwal teknis penyaluran dan wilayah mana saja yang akan menjadi prioritas, kementerian belum menetapkan keputusan final.
Namun, Eniya memberikan bocoran mengenai kriteria wilayah potensial yang diprioritaskan, salah satunya adalah daerah yang memiliki pasokan listrik melimpah dan stabil.
"Belum tahu [terkait dengan penyaluran]. Ini nanti kan kalau pengguna kompor listrik, pasti tempat yang listriknya stabil. Itu kan salah satu kriteria yang mudah kita prediksi ya, lalu tempat yang mungkin surplus listrik dalam satu sistem. Kita sedang bahas dengan PLN juga," jelasnya.
Adapun, berdasarkan data dokumen rapat kerja Kementerian ESDM bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026), program kompor listrik ini masuk ke dalam jajaran program strategis infrastruktur untuk mendukung ketahanan energi nasional pada Pagu Indikatif Tahun Anggaran (TA) 2027.
Untuk memuluskan rencana tersebut, Ditjen EBTKE telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar.
Dari total pagu infrastruktur Ditjen EBTKE sebesar Rp1,50 triliun, anggaran khusus untuk pengadaan kompor listrik disiapkan mencapai Rp815,56 miliar.
Program kompor listrik ini bergandengan dengan program strategis energi bersih lainnya di bawah Ditjen EBTKE, seperti konversi motor listrik dengan anggaran sebesar Rp635,24 miliar serta pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) senilai Rp58,58 miliar.
(smr/wdh)




























