Logo Bloomberg Technoz

Pasar energi global telah berada dalam bayang-bayang perang sejak konflik pecah pada akhir Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran untuk membatasi program nuklirnya. Respons Teheran mencakup serangan di kawasan Teluk Persia serta penutupan Selat Hormuz, yang pada masa damai menjadi jalur sekitar seperlima aliran minyak dunia. Secara terpisah, pasukan AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran.

Setelah harga minyak melonjak pada fase awal konflik, harga mulai terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir menyusul berulang kali munculnya sinyal bahwa Washington dan Teheran semakin dekat dengan kesepakatan. Selain itu, terdapat indikasi bahwa sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali berlangsung. Di sisi lain, negara-negara maju juga menggunakan cadangan minyak darurat mereka, sementara sejumlah negara pengimpor utama—terutama China—mengurangi volume impor.

Meski kesepakatan ini menjadi kabar baik bagi produsen energi di kawasan Teluk Persia, industri pelayaran global, dan para konsumen, masih terdapat sejumlah hambatan sebelum lalu lintas melalui Selat Hormuz dapat sepenuhnya pulih. Hambatan tersebut antara lain pembersihan ranjau anti-kapal serta kejelasan mengenai keinginan Teheran untuk menerapkan kontrol yang lebih besar terhadap kapal-kapal yang melintas.

Kontrak berjangka gas alam Eropa juga mengalami penurunan tajam, dengan harga sempat merosot hingga 5,8%.

Harga:

  • Brent untuk pengiriman Agustus turun 3,4% menjadi US$84,32 per barel pada pukul 06.37 pagi waktu Singapura.
  • WTI untuk pengiriman Juli merosot 4,0% menjadi US$81,46 per barel.

(bbn)

No more pages