Otoritas tengah meneliti apakah sebagian barang diekspor dengan nilai faktur yang lebih rendah dari harga pasarnya sebagai upaya menyembunyikan keuntungan dan mengurangi kewajiban pajak. Bulan lalu, mereka menyatakan sedang menyelidiki 10 produsen besar kelapa sawit di Indonesia atas dugaan manipulasi harga ekspor minyak sawit mentah (CPO). Namun, belum jelas apakah PT Salim Ivomas Pratama termasuk di antara perusahaan yang sedang diselidiki pemerintah.
Perkembangan ini juga terjadi di tengah kekhawatiran sejumlah pelaku pasar terhadap serangkaian kebijakan yang memperluas peran negara dalam mengarahkan investasi dan mengelola sektor-sektor strategis perekonomian.
Dalam pemeriksaan terhadap staf bank terbesar di Malaysia tersebut, belum jelas apakah telah ditemukan adanya pelanggaran. Baik perusahaan maupun bank tersebut belum dituduh melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Maybank Indonesia menyatakan tetap berkomitmen menjaga standar tata kelola dan kepatuhan tertinggi, serta bekerja sama dengan otoritas terkait sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, kata seorang juru bicara dalam tanggapannya kepada Bloomberg. Juru bicara tersebut menambahkan bahwa bank tidak dapat memberikan komentar mengenai hubungan dengan nasabah maupun hal-hal yang mungkin menjadi subjek proses regulasi dan hukum, sesuai kebijakan perusahaan.
Sementara itu, PT Salim Ivomas Pratama tidak menanggapi permintaan komentar.
Eksposur Maybank Indonesia terhadap PT Salim Ivomas Pratama relatif terbatas, yakni sekitar Rp150 miliar (setara US$8,3 juta), berdasarkan laporan keuangan terbaru perusahaan. Namun, selama bertahun-tahun bank tersebut telah menjadi salah satu mitra perbankan utama bagi kelompok usaha Salim Group secara lebih luas. Belum diketahui apakah bank-bank lain yang memiliki hubungan dengan grup tersebut juga telah menjalani pemeriksaan.
Penyelidik tengah mencari informasi mengenai fasilitas perbankan yang diberikan kepada perusahaan tersebut serta sifat dari skema pembiayaannya. Pemberi pinjaman menyediakan fasilitas kredit bergulir (revolving credit facilities) yang ditujukan untuk kebutuhan modal kerja, bukan secara khusus untuk membiayai kegiatan ekspor, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Otoritas sedang meneliti apakah ada fasilitas tersebut yang terkait dengan transaksi-transaksi yang kini menjadi objek penyelidikan.
Meskipun rincian lebih lanjut mengenai penyelidikan tersebut masih belum jelas, pemeriksaan terhadap para bankir menunjukkan bahwa otoritas memperluas cakupan penyelidikannya, tidak hanya terhadap eksportir tetapi juga terhadap lembaga keuangan yang memfasilitasi transaksi yang terkait dengan perdagangan komoditas.
Direktur Utama Maybank Dato' Sri Khairussaleh Ramli mengatakan bahwa ia memperkirakan Indonesia akan menjadi kontributor besar bagi bisnis perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang. Menurutnya, bank saat ini berfokus pada bagaimana melayani nasabah di Indonesia dengan lebih baik, sembari memahami berbagai tantangan yang sedang dihadapi di negara tersebut. Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah wawancara pekan ini.
(dov)































