Sebagai bank dengan fokus utama pada segmen UMKM, kata dia, BRI akan terus memantau perkembangan kondisi pasar dan suku bunga secara cermat, serta memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal guna mendukung aktivitas ekonomi nasional.
“Perseroan juga akan terus memastikan kecukupan permodalan, menjaga likuiditas, serta mengoptimalkan struktur liabilitas bank untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Sebelumnya, BI mengumumkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,5% secara mengejutkan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan alasan bank sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,5% karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di luar dari prediksi bank sentral.
“Tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, itu Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana. Apakah proyeksi ini sejalan atau enggak. Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu,” kata Perry ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (9/6/2026).
Perry menegaskan, sesuai Undang-undang dan praktik yang dilakukan bank sentral selama ini memang mengambil keputusan setiap dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan yakni seperti pada rapat 19-20 Mei 2026. Saat itu, BI menaikkan suku bunga acuan 50 bps.
Akan tetapi, setiap pekan atau pada Selasa bank sentral selalu melakukan evaluasi pelaksanaan keputusan tersebut.
Diketahui, pengambilan keputusan dalam RDG Bank Indonesia diatur dalam Pasal 43 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang telah beberapa kali diubah, terakhir melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK).
Rupiah menutup perdagangan Selasa (9/6/2026) dengan penguatan 0,65% di posisi Rp18.065/US$, setelah BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5%.
Penguatan rupiah juga mendapat tenaga dari koreksi yang terjadi pada indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama. Indeks dolar AS tercatat menyusut 0,11% ke 99,93, menyusul harga minyak yang kembali jinak ke posisi US$92,98 per barel, setelah terkoreksi 1,35% pada 14:50 WIB.
(ell)





























