Logo Bloomberg Technoz

"Fokus utama dari pertemuan kali ini adalah seberapa jauh Gubernur Ueda akan membahas kemungkinan dan urgensi untuk mempercepat laju kenaikan suku bunga—dengan kata lain, apakah ia akan mengisyaratkan perubahan sikap menjadi seorang 'pemberantas inflasi'," tulis Naomi Muguruma, kepala strategi obligasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, dalam respons surveinya.

Pidato Ueda pekan lalu membuat opsi kenaikan suku bunga pada bulan Juni ini dinilai "pasti" atau "sangat mungkin terjadi" oleh 94% responden survei. Di sisi lain, persentase responden yang menilai adanya peningkatan risiko bahwa BOJ bakal tertinggal dalam mengantisipasi inflasi kini mencapai 60%, level tertinggi sejak pertanyaan tersebut pertama kali diajukan dalam survei Juli tahun lalu.

"Jika BOJ menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga, kekhawatiran bahwa bank sentral tertinggal dalam mengantisipasi inflasi bisa semakin intens. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan tajam pada suku bunga jangka panjang," ujar Kazuhiko Sano, kepala strategi obligasi di Tokai Tokyo Securities.

Perekonomian Jepang sejauh ini masih cukup tangguh meski menghadapi tekanan geopolitik. Data produk domestik bruto (PDB) revisi yang dirilis Senin menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh pada laju tahunan 1,8% pada awal tahun, menandai kuartal kedua berturut-turut dengan pertumbuhan positif.

Dengan ketahanan ekonomi tersebut sebagai latar belakang, para pembuat kebijakan disebut tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pekan depan dan membuka kemungkinan kenaikan lanjutan pada akhir tahun ini, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Sekitar 71% ekonom memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sekali setiap enam bulan, menurut hasil survei. Beberapa ekonom, termasuk Yoshimasa Maruyama dari SMBC Nikko Securities, memperkirakan kenaikan berikutnya akan terjadi pada Oktober.

Perdana Menteri Sanae Takaichi dinilai menjadi faktor yang mempersulit upaya BOJ menormalkan kebijakan moneternya karena sebelumnya ia pernah menyatakan dukungan terhadap kebijakan moneter longgar. Jika BOJ tidak menaikkan suku bunga bulan ini, sekitar 75% responden menilai pasar akan semakin percaya bahwa sang perdana menteri menciptakan hambatan besar bagi kebijakan kenaikan suku bunga.

Fokus lain dalam pertemuan BOJ adalah pembaruan rencana pembelian obligasi bulanan untuk tahun fiskal yang dimulai pada April 2027. Berdasarkan rencana yang berlaku saat ini, nilai pembelian obligasi BOJ diperkirakan turun menjadi sekitar 2,1 triliun yen per bulan pada saat itu.

Mayoritas besar analis memperkirakan bank sentral akan memperlambat laju pengurangan pembelian obligasi bulanannya. Para ekonom masih terbelah mengenai apakah BOJ akan menghentikan pengurangan tersebut atau hanya memperlambat kecepatannya.

Sebanyak 44% responden memperkirakan BOJ akan menghentikan pengurangan pembelian obligasi, sementara 36% memperkirakan pengurangannya tetap berlanjut namun dengan laju yang lebih lambat. Sebanyak 18% lainnya menilai pengurangan akan tetap dilakukan sebesar 200 miliar yen per kuartal.

Perdebatan mengenai pengurangan pembelian obligasi menjadi semakin rumit karena muncul kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa bank sentral sedang membantu pemerintahan Takaichi, yang berkomitmen menjalankan kebijakan fiskal agresif namun tetap bertanggung jawab. Sebanyak 52% ekonom menyatakan kekhawatiran tersebut.

“Saya memperkirakan BOJ akan menghentikan sementara pengurangan pembelian obligasinya,” kata Naoya Hasegawa, kepala strategi obligasi di Okasan Securities. “Namun, mengingat kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat dipandang sebagai bentuk tunduk pada tekanan politik serta berpotensi melemahkan yen atau mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang, bank sentral mungkin akan memilih memperlambat laju tapering dibanding menghentikannya sepenuhnya.”

(bbn)

No more pages