Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham perindustrian menjadi pendorong penguatan IHSG bullish hingga melesat di zona hijau, dengan menguat hingga 9,97%, 9,19% dan 8,55%.
Bursa Saham Asia juga kompak menguat pada hari ini. Senada dengan KOSPI (Korea), KOSDAQ (Korea), TW Weighted Index (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Jepang), CSI 300 (China), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), Straits Times (Singapura), Topix (Jepang), PSEi (Filipina), SENSEX (India), dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), yang berhasil menguat masing–masing 8,18%, 6,19%, 2,76%, 2,44%, 2,17%, 1,87%, 1,44%, 1,28%, 1,2%, 1,14%, 1,13%, 0,54%, dan 0,14%.
BI Rate Naik 25 Bps Jadi 5,5%
Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada bulan Juni 2026. Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.
Dalam laporannya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%. Hal ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan BI pada hari ini, Selasa hari ini.
RDG Mingguan BI pada 9 Juni 2026 turut memutuskan suku bunga Deposit Facility meningkat sebesar 25 bps menjadi 4,5%, dan suku bunga Lending Facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” papar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam Keterangan Pers tertulis, Selasa.
Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran investasi portfolio asing ke Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan alasan Bank Sentral Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% menyoal pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di luar dari prediksi Bank Sentral.
“Tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, itu Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana. Apakah proyeksi ini sejalan atau enggak. Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu,” kata Perry ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa.
Bank Indonesia (BI) juga terus memperkuat koordinasinya dengan pemerintah dengan menyeimbangkan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan imbal hasil bagi masuknya aliran investasi portofilio asing, khususnya pada SRBI dan SBN, serta memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Setelah pengumuman kenaikan suku bunga oleh BI, rupiah berhasil mengalami apresiasi positif dengan penguatan 0,65% menjadi Rp18.060/US$ pada penutupan pasar spot, berdasarkan data Bloomberg.
Phintraco Sekuritas menyebut, penguatan tersebut terjadi setelah rupiah mengalami depresiasinya yang paling kuat di level Rp18.190/US$.
“Keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunganya lebih lanjut menjadi 5,5% ini berpotensi mendorong kenaikan permintaan obligasi pemerintah Indonesia seiring dengan masuknya aliran modal asing, sebab investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi,” papar Phintraco dalam risetnya usai laporan BI.
“Aliran modal asing yang masuk ke Indonesia tersebut berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah.”
(fad)





























