Logo Bloomberg Technoz

Oleh karenanya, Chatib menyebut bahwa pemeruntah bisa mengatasi hal tersebut salah satunya adalah dengan combined revenue. 

Sebelumnyam Chatib menyebut bahwa perekonomian dalam negeri tidak seburuk yang dibayangkan oleh masyarakat. Chatib menyebut, buruknya situasi ekonomi saat ini lebih disebabkan oleh faktor global. 

“Yang menarik adalah, situasi di domestik itu nggak seburuk yang dibayangkan. Mungkin bapak/ibu banyak yang tidak setuju sama saya. Kenapa? Karena kalau dilihat, di kuartal pertama, household consumptionnya itu masih lumayan," kata Chatib dalam Grab Business Forum di Jakarta

Terlebih di kuartal pertama, konsumsi masih mencatatkan pertumbuhan didorong oleh konsumsi masyarakat di masa lebaran ditambah dengan belanja pemerintah sebesar 20%-22% sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Chatib menyebut bahwa belanja pemerintah tersebut tak akan selamanya berada di angka 22%. Apabila belanja pemerintah dipertahankan di level 22%, maka pemerintah harus mencari alternatif pendanaan dengan memperbesar porsi pajak.

Chatib juga menyoroti defisit APBN dengan besarnya belanja pemerintah yang belum cukup diimbangi dengan  pertumbuhan pajak.

“Pertanyaannya adalah, bisakah government spending ini akan terus setinggi ini ke depan? Karena growth-nya itu 35% spending dari government. Sementara tax revenue-nya, itu kalau kita lihat, dia tumbuh di sekitar 18%, sementara spending-nya 34%,” kata Chatib.

Sementara itu, terdapat kekhawatiran perlambatan setoran pajak pada kuartal III dan kuartal IV. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk mengambil langkah dengan memperlambat belanja pemerintah.

“Mau nggak mau, itu spending-nya juga akan slowdown. Kalau nggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3%. Inilah yang menimbulkan  anxiety dari orang, dari investor,” sebut Chatib.

(ell)

No more pages