Logo Bloomberg Technoz

Mau Direlaksasi, RKAB Batu Bara Disarankan Naik Jadi 700 Juta Ton

Azura Yumna Ramadani Purnama
09 June 2026 10:40

Flames rise from a heap of red hot coke coal./Bloomberg-Andrey Rudakov
Flames rise from a heap of red hot coke coal./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar industri mineral dan batu bara (minerba) menyarankan kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 direvisi naik menjadi sekitar 700 juta ton, dari sebelumnya sekitar 600 juta ton.

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menilai kuota produksi di sekitar 700 juta ton merupakan besaran yang rasional dalam menghadapi perkembangan pasar batu bara; domestik dan global.

Singgih mengungkapkan saran tersebut telah memperhitungkan realisasi produksi pada tahun lalu di rentang 790—817 juta ton dan kenaikan produksi batu bara China dan India.


“Dengan produksi 2025 sebanyak 790 juta ton dan catatan volume produksi di setiap perusahaan, termasuk kondisi kenaikan produksi China dan India; saya melihat relaksasi sampai sekitar 700 juta lebih rasional dalam menghadapi [perkembangan] pasar. Tentunya termasuk kebutuhan domestik, baik kelistrikan umum maupun industri,” kata Singgih ketika dihubungi, Selasa (9/6/2026).

Ilustrasi pemrosesan batu bara hasil penambangan. dok: Bloomberg

Singgih meyakini revisi kuota produksi dalam RKAB 2026 yang bakal dilakukan pemerintah bakal memperbaiki margin keuntungan penambang, selama harga jual masih di atas biaya produksi per ton.