“Posisi devisa neto secara konsisten masih jauh di bawah ambang batas maksimal 20% dari modal bank,” imbuh Kiki.
Meski demikian, OJK mencermati potensi risiko lanjutan dari pergerakan nilai tukar, terutama yang dapat berdampak pada sektor riil dan berimbas ke kualitas aset perbankan. Risiko tersebut antara lain berasal dari peningkatan kewajiban valas korporasi, tekanan pada sektor usaha dengan eksposur impor tinggi, serta kenaikan biaya bahan baku dan operasional.
“Kami mewaspadai berbagai kanal transmisi risiko, termasuk potensi peningkatan beban kewajiban valas korporasi dan tekanan pada sektor usaha yang memiliki eksposur impor tinggi, yang dapat berdampak pada kualitas aset perbankan,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, lanjut Kiki, OJK memperkuat pengawasan terhadap aktivitas valuta asing di perbankan, termasuk melalui pemantauan posisi devisa neto dan likuiditas valas. Selain itu, OJK juga akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah dinamika nilai tukar.
Sebagai informasi, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat, 5 Juni 2026, terpantau kembali berada di bawah tekanan besar dan sempat menembus level psikologis baru.
Rupiah dibuka melemah 0,17% langsung ke level Rp18.050/US$ pada pagi hari ini, melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya. Adapun, rupiah ditutup menguat 13 poin setelah sebelumnya sempat melemah 17 poin di level Rp18.036 dari penutupan sebelumnya di level Rp18.049.
(ain)





























