Logo Bloomberg Technoz

“Total ekspor produk sawit pada bulan Maret 2026 turun menjadi 2.168 ribu ton atau -34,25% dari ekspor bulan Februari sebesar 3.297 ribu ton,” ujar Mukti.

Dia menerangkan, penurunan ekspor terjadi terhadap CPO yang menjadi 96 ribu ton dari 395 ribu ton pada bulan sebelumnya atau turun 75,61%. Lalu, pada olahan minyak inti sawit yang menjadi 94 ribu ton dari 171 ribu ton atau mengalami penurunan hingga 44,67%. Serta, di olahan minyak sawit yang menjadi 1.506 ribu ton dari 2.267 ribu ton atau turun 33,57%. 

Meski begitu, kata Mukti, pihaknya mengeklaim terdapat kenaikan ekspor pada oleokimia yang naik menjadi 468 ribu ton dari 462 ribu ton pada bulan sebelumnya atau mengalami kenaikan 1,42%. Secara tahunan sampai dengan Maret tahun ini, ekspor 2026 pun diklaim naik menjadi 8.546 ribu ton atau 11,91% lebih tinggi dari ekspor 2025 senilai 7.637 ribu ton.

Menurut negara tujuannya, terjadi penurunan ekspor pada bulan Maret di bandingkan bulan sebelumnya yaitu untuk China (-314 ribu ton), India (-291 ribu ton), Pakistan (-113 ribu ton), Bangladesh (-90 ribu ton), Afrika (-81 ribu ton), Middle East (-77 ribu ton), Malaysia (-71 ribu ton), USA (-41 ribu ton) dan EU 27 (-25 ribu ton).

Lanjut dia, GAPKI mengklaim ada kenaikan ekspor yang terjadi untuk tujuan Rusia atau sebesar 24 ribu ton. Secara yoy hingga Maret tahun ini, terdapat penurunan ekspor 2026 dari ekspor 2025 terjadi untuk tujuan Pakistan (-118 ribu ton), Amerika Serikat (-93 ribu ton), Rusia (-28 ribu ton), dan Uni Eropa (-13 ribu ton).

Namun, Mukti menyebut pihaknya mengeklaim ada peningkatan ekspor yang terjadi untuk tujuan Cina (+673 ribu ton), India (+218 ribu ton), Timur Tengah (+120 ribu ton), Afrika (+106 ribu ton), Malaysia (+38 ribu ton) dan Bangladesh (+7 ribu ton). “Nilai ekspor produk sawit bulan Maret mengalami penurunan dari US$3,69 miliar di bulan Februari menjadi US$2,61 miliar pada Maret atau turun sebesar -29,27%,” ujar dia.

Lebih lanjut Mukti, secara tahunan sampai dengan Maret tahun ini, nilai ekspor 2026 naik menjadi US$9,66 miliar atau 10,40% lebih tinggi dibanding 2025 sebesar US$8,75 miliar. “Peningkatan nilai ekspor secara YoY terjadi karena meningkatnya volume ekspor dan juga karena harga rata-rata Januari-Maret 2026 sebesar US$ 1.356/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-Maret 2025 sebesar US$ 1.230/ton Cif Roterdam,” jelas dia.

Menurut GAPKI, dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2.026 ribu ton, produksi 4.821 ribu ton, konsumsi 2.115 ribu ton, dan ekspor 2.168 ribu ton, maka stok di akhir Maret tahun ini menjadi 2.568 ribu ton lebih besar dari 2.026 ribu ton pada stok di akhir Februari 2026.

(ain)

No more pages