Logo Bloomberg Technoz

Yuliot juga mengatakan pengadaan minyak dari Rusia dengan wilayah lain—misalnya dari Timur Tengah, Amerika, dan Afrika — berpotensi memiliki perbedaan atau selisih harga.

Hal ini disebabkan oleh fluktuasi harga minyak, biaya pengiriman, hingga lokasi. Dengan demikian, selisih ini juga akan diatur di dalam perpres terbaru. 

Harga Urals untuk perhitungan pajak minyak Mei diperkirakan akan di level tertinggi sejak akhir 2023. (Bloomberg)

“Kita mengadakan minyak itu kan ada dari Timur Tengah, kemudian itu ada dari Afrika, kemudian ada dari Amerika juga, ada dari Rusia. Ini kan bisa terjadi perbedaan. Jadi pada saat ini [sudah diatur], jangan [sampai] ke depan menjadi persoalan hukum di belakang hari, itu juga diatur dalam perpres,” ungkapnya. 

Sekadar catatan, harga Urals—minyak mentah acuan Rusia — terus menguat tahun ini dan sempat menyentuh US$94,87/barel atau level tertinggi sejak 2023 pada medio Mei. 

Urals diperdagangkan di level yang mendekati harga patokan internasional Brent lantaran penutupan Selat Hormuz kian memperketat pasokan minyak global dan meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah Rusia.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mengakui pemerintah memang tengah menyusun perpres pembentukan BLU yang bakal ditugaskan untuk mengimpor minyak mentah dari Negeri Beruang Merah.

Direktur Pembinaan Program Migas Ditjen Migas Kementerian ESDM Hendra Gunawan menyatakan aturan turunan berupa peraturan menteri (permen) atau keputusan menteri (kepmen) juga sedang disiapkan Ditjen Migas.

“Dari pihak kami sudah menyiapkan perpres tentang penunjukan BLU dan kemudian ini akan digodok terus tindak lanjutnya, mekanisme dalam bentuk permen atau kepmen,” kata Hendra dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Kamis (21/5/2026).

Dia menegaskan rancangan dari aturan turunan perpres baru tersebut juga diharapkan dapat segera rampung dan dibahas dalam waktu dekat.

“Kita sudah mempunyai draf permen tindak lanjut dari perpres,” ungkap Hendra.

Sebelumnya, padahal, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman memberikan sinyal PT Pertamina (Persero) tidak akan menjadi pihak yang mengeksekusi impor minyak mentah dengan volume total 150 juta barel dari Rusia.

Laode mengungkapkan, dalam berbisnis, perusahaan energi pelat merah tersebut turut menerbitkan surat utang atau obligasi global (global bond).

Salah satu aspek yang dipertimbangkan sebagai penerbit surat utang global adalah menghindari sejumlah hal yang dapat melanggar penerbitan obligasi; termasuk melakukan transaksi dengan Rusia—yang terkena sanksi oleh negara Barat.

“Khusus untuk produk Rusia, kita ketahui bahwa Pertamina dalam berbisnis menggunakan global bond. Global bond itu harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar global bond-nya dia. Makanya, skemanya sedang diproses,” ungkap Laode kepada awak media di sela IPA Convex, Rabu (20/5/2026).

Laode belum dapat mengungkapkan badan pelaksana yang bakal mengimpor minyak mentah Rusia. Namun, dia memberikan sinyal bakal terdapat peraturan yang diterbitkan pemerintah untuk mengakomodasi importasi minyak Rusia.

“Saya ingin sampaikan bahwa itu nanti akan didukung juga dengan regulasi tambahan,” tegasnya.

(wdh)

No more pages