Logo Bloomberg Technoz

Rupiah pada perdagangan pagi hari ini melanjutkan tren pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah. Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,36% di pasar spot menyentuh Rp17.669/US$.

Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support menarik dicermati adalah level Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$ yang secara potensial menahan rupiah.

Rupiah Melemah (lagi) Dekati Level All Time Low (Bloomberg)

Tekanan terhadap rupiah sepertinya belum usai. Kekhawatiran terhadap inflasi dari kenaikan harga minyak membuat imbal hasil obligasi global melesat. Kondisi ini masih berpotensi menyebabkan adanya arus modal keluar (capital outflow) dari regional Asia, termasuk Indonesia. 

“Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah,” kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Lebih lanjut, persepsi risiko terhadap aset di pasar negara berkembang termasuk Indonesia masih relatif tinggi, ketidakpastian global membuat aliran modal asing yang masuk belum cukup deras untuk bisa menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.

Kenaikan BI Rate 50 basis poin menuju 5,25% memang jadi langkah agresif dalam memprioritaskan stabilitas pasar dan menjaga nilai tukar serta meredam arus keluar modal asing. Namun efektivitasnya masih sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama dari harga minyak mentah. 

Belum lagi dari sisi internal masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan terkait kondisi defisit fiskal yang masih menjadi perhatian pasar. Kemarin, Presiden Prabowo Subianto bahkan menyoroti terkait rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia yang paling rendah di antara negara–negara tetangga.

Rasio pendapatan negara terhadap PDB di Meksiko adalah 25% dan India 20%. Sedangkan di level Asia Tenggara, Filipina menyentuh 21% dan Kamboja 15%. Adapun Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB.

Sorotan ini akan ditangkap oleh pelaku pasar sebagai sinyal kondisi fiskal domestik yang masih rapuh di tengah tekanan global yang semakin besar. Rendahnya rasio penerimaan negara terhadap PDB dapat menunjukkan kepada investor– ruang fiskal Indonesia relatif terbatas untuk menghadapi gejolak eksternal.

Apalagi, ketika pemerintah membutuhkan belanja yang lebih besar untuk menjaga daya beli, subsidi energi, hingga melakukan upaya stabilitas ekonomi.

(fad/aji)

No more pages