Untuk komoditas bauksit, terdapat 6 smelter yang sedang dibangun dengan produk Smelter Grade Alumina (SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA). Total kapasitas bijih bauksit yang bisa diolah mencapai 19.686.976 ton dengan kapasitas hasil olahan sebesar 7.486.215 ton.
Untuk komoditas nikel, terdapat 4 smelter beroperasi dan 2 smelter dalam pembangunan dengan produk feronikel (FeNi) dan nickel matte. Total kapasitas bijih nikel yang dapat diolah mencapai 24.931.355 ton dengan kapasitas hasil olahan sebesar 924.779 ton.
Pada komoditas tembaga, terdapat 1 smelter yang beroperasi memproduksi katoda tembaga. Kapasitas pengolahan bijih tembaga mencapai 2 juta ton dengan kapasitas hasil olahan sebesar 460.000 ton.
Sementara itu, komoditas besi memiliki 1 smelter yang dalam tahap pembangunan dengan produk sponge ferro alloy. Kapasitas bijih besi yang bisa diolah mencapai 4.725.000 ton dan kapasitas output sebesar 1.701.325 ton.
Adapun, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mencatat saat ini Indonesia memiliki sekitar 7,7 miliar sumber daya bijih bauksit dan cadangan bijih bauksit sekitar 2,86 miliar ton.
Kondisi tersebut membuat Indonesia menjadi negara dengan cadangan bijih bauksit terbesar ke-4 secara global.
Dia menjelaskan bahwa bijih bauksit dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan alumina dan aluminium yang dimanfaatkan untuk berbagai industri.
Saat ini, kata dia, baru terdapat 3 pabrik pengolahan bauksit untuk menghasilkan alumina dengan jenis CGA dan SGA. Dua smelter tersebut berlokasi di Kalimantan Barat dan satu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Rizal mencatat kebutuhan bijih bauksit untuk tiga pabrik pengolahan tersebut hanya sekitar 33,75 juta ton per tahun.
(azr/wdh)



























