“Kalau kita [Kementerian ESDM] kan mengusulkan, ya. Cuma, apakah itu dieksekusi atau tidak, tergantung Danantara,” tambahnya.
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, produksi LPG nasional sepanjang 2025 hanya berkisar di angka 1,3 juta ton, sedangkan konsumsi mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun. Artinya, produksi LPG dalam negeri hanya mampu memenuhi 19,42% dari kebutuhan nasional.
“LPG kita juga produksi hampir 20% dari kebutuhan. Jadi bukan kita enggak bisa produksi LPG, tapi memang jumlahnya terbatas,” jelasnya.
Dengan proyek CNG yang berjalan dan proyek DME yang masih dalam target, Erani mengatakan pihaknya akan memaksimalkan opsi-opsi tersebut untuk mengurangi impor LPG.
“Jadi LPG ada, masih terus kita produksi. Kemudian nanti ada CNG itu, terus nanti ada DME dan beberapa kemungkinan-kemungkinan lain opsi-opsinya. Makin kita ada variasi dan ada sumber-sumber yang banyak, kan bagus buat kemandirian,” ungkapnya.
Sebelumnya, proyek DME pertama yang terletak di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, secara resmi telah memasuki tahap pembangunan dengan ditandainya peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Rabu (29/4/2026).
Proyek strategis nasional ini dikembangkan oleh anggota MIND ID, yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Pertamina, serta Danantara, dan ditargetkan rampung pada tahun 2030.
(smr/ros)






























