Logo Bloomberg Technoz

Meta berharap kehadiran AI itu dapat membuat pegawai merasa lebih dekat dengan sang pendiri perusahaan, masih berdasarkan laporan yang sama.

Di sisi lain, Mark Zuckerberg juga disebut dapat menerima lebih banyak masukan dari pegawai melalui sistem AI yang merangkum percakapan dan feedback secara digital.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan pendekatan Mark Zuckerberg yang selama ini dikenal kerap mencoba langsung teknologi baru yang dikembangkan perusahaannya.

Ketika Facebook berupaya memperluas bisnis ke China beberapa tahun lalu, Mark Zuckerberg sempat mempelajari bahasa Mandarin. Saat chatbot mulai populer, ia juga pernah membuat asisten rumah pintar berbasis AI yang dapat dikendalikan melalui ponsel.

Selama pandemi Covid-19, Mark Zuckerberg bahkan menjalankan sejumlah rapat perusahaan melalui metaverse ketika Meta tengah agresif mengembangkan teknologi dunia virtual. 

Kini, fokus utama perusahaan bergeser ke kecerdasan buatan generatif yang menjadi prioritas investasi terbesar Meta dalam beberapa tahun terakhir.

Mark Zuckerberg kini lebih aktif terlibat langsung dalam pengembangan AI perusahaan. Ia dilaporkan rutin mengikuti rapat dengan laboratorium AI Meta dan menghabiskan sekitar lima hingga sepuluh jam per minggu untuk coding.

Robot Zuckerberg memang dapat berinteraksi dengan jauh lebih banyak pegawai dibanding Zuckerberg asli. Tetapi apakah representasi AI benar-benar mampu mendengarkan para pegawai tersebut, atau mengambil keputusan penting yang membutuhkan empati dan perspektif manusia?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun mendatang. Bisa jadi, seperti asisten rumah pintar buatannya dulu, AI Zuckerberg pada akhirnya hanya akan dikenang sebagai gimmick.

(mef/wep)

No more pages