Namun sepertinya tekanan terhadap rupiah kali ini dinilai bukan lagi sekadar dipicu faktor global. Pasar mulai melihat adanya kekhawatiran terhadap kredibilitas policy anchor domestik, terutama terkait arah kebijakan moneter di tengah depresiasi rupiah yang semakin cepat.
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level Rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul.
Ia menilai belum adanya sinyal penyesuaian yang cukup tegas, khususnya terkait harga energi domestik, arah subsidi, dan kalibrasi fiskal, membuat tekanan penyesuaian berpindah hampir sepenuhnya ke nilai tukar rupiah. Dalam rezim arus modal terbuka pasca-1998, kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena Dornbusch overshooting yang semakin agresif.
Fenomena Dornbusch overshooting adalah pelemahan nilai tukar yang bergerak jauh melampaui level fundamentalnya akibat kepanikan pasar dan ekspektasi yang tidak terkendali.
Kenaikan BI Rate Tak Terhindarkan?
Di tengah tekanan tersebut, spekulasi kenaikan suku bunga acuan kembali menguat. Intervensi di pasar valas dinilai belum cukup efektif untuk meredam volatilitas rupiah, sehingga pasar mulai memperkirakan BI perlu menaikkan suku bunga acuan setidaknya menuju 5% guna mengembalikan daya tarik aset rupiah dan menahan keluarnya arus modal asing.
Menurut Fakhrul, BI perlu kembali menggunakan pendekatan stabilisasi klasik yang pernah diterapkan saat menghadapi tekanan eksternal pada periode sebelumnya, yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve. Dalam konteks saat ini, langkah tersebut menurutnya kemungkinan membutuhkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.
“Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” katanya.
Ia juga menilai kenaikan BI Rate tidak selalu berarti pengetatan berlebihan terhadap ekonomi riil. Indonesia, menurutnya, kini memiliki instrumen makroprudensial yang jauh lebih fleksibel dibanding siklus pengetatan sebelumnya. Dengan koordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit ke sektor prioritas masih dapat dijaga melalui insentif likuiditas maupun kebijakan sektoral yang lebih terarah.
Senada, Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut tekanan depresiasi rupiah berpeluang terus berlanjut menuju rentang Rp17.650-17.750/US$.
"Kami memperkirakan kenaikan BI Rate naik 25 bps menjadi 5% besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah," sebut Lionel dalam catatannya.
Level Rp17.700/US$ sendiri kini dipandang sebagai batas psikologis penting bagi pasar. Jika tekanan berlanjut tanpa respons kebijakan yang lebih agresif, maka rupiah berpotensi memasuki fase overshooting yang lebih dalam. Risiko imported inflation dapat meningkat, persepsi investor memburuk, dan tekanan di pasar obligasi domestik pun berpotensi semakin besar.
Dengan kondisi tersebut, perdagangan rupiah hari ini diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil. Pasar kini menunggu sinyal yang lebih tegas dari BI terkait arah suku bunga dan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang semakin intens.
(dsp/aji)






























