Logo Bloomberg Technoz

“Harga tembaga masih berpotensi besar melaju ke arah target baru di kisaran US$15.000/ton pada sisa tahun ini hingga tahun depan,” kata Wahyu ketika dihubungi, Selasa (19/5/2026).

Dua Faktor

Wahyu mencatat setidaknya terdapat dua faktor utama yang akan terus menyokong struktur harga tembaga tetap pada level tinggi.

Pertama, defisit pasokan. Pengetatan pasokan tembaga terjadi di pasar dunia, dengan adanya penutupan mendadak tambang besar seperti Cobre Panama hingga Grasberg Block Cave (GBC).

Kondisi tersebut juga diperparah dengan terjadinya penurunan kadar bijih secara global dan ketatnya pasokan konsentrat ke fasilitas smelter di China.

“[Kondisi ini] membuat stok tembaga dunia berada pada level yang sangat kritis,” ungkap Wahyu.

Kedua, ledakan permintaan dari transisi energi dan sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Wahyu menilai tembaga merupakan komponen penting bagi pembangunan infrastruktur kendaraan listrik, jaringan energi terbarukan, serta pusat data berbasis AI yang membutuhkan listrik sangat besar.

“Struktur pergerakan harga mencerminkan fase bullish continuation yang sangat kuat setelah berhasil menembus pola konsolidasi panjang sejak tahun 2021 hingga akhir 2024,” tegas dia.

Harga tembaga terus naik di atas US$14.000/ton, mendekati rekor tertinggi yang terlihat awal tahun ini, seiring dengan meningkatnya risiko pasokan akibat gangguan tambang di seluruh dunia.

Saat ini tembaga dilego senilai US$13.587,50/ton di London Metal Exchange (LME) atau naik 0,24% dari perdagangan hari sebelumnya.

Sekadar catatan, Deutsche Bank sebelumnya memperingatkan bahwa output dari para penambang terbesar dunia akan turun 3% tahun ini dan berpotensi kembali melemah pada 2026.

Meski persediaan global masih mencukupi untuk saat ini, analis Morgan Stanley memperkirakan pasar tembaga global akan menghadapi defisit paling parah dalam lebih dari 20 tahun.

Bank tersebut memperkirakan permintaan akan melampaui pasokan sekitar 600.000 ton tahun depan, dengan kesenjangan yang diproyeksikan semakin melebar setelahnya.

Citigroup telah menyarankan klien bahwa harga tembaga bisa mencapai US$15.000/ton dalam skenario bullish, di mana pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan pemangkasan suku bunga AS makin meningkatkan daya tarik logam tersebut, mendorong investor masuk lebih agresif.

Adapun, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memprediksi pasokan tembaga dunia bakal lebih rendah rendah dari permintaannya mulai 2029, dengan proyeksi permintaan tembaga tumbuh rata-rata sekitar 4% per tahun.

Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau, mengutip kajian Wood Mackenzie, memprediksi total konsumsi tembaga global terus meningkat hingga mendekati 50 juta ton pada 2050.

Sebaliknya, produksi tambang eksisting justru menunjukkan tren penurunan dalam jangka panjang.

Rachmat mengungkapkan kesenjangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan mulai terlihat sekitar 2029. Tambahan pasokan dari proyek-proyek baru, pemanfaatan tambang brownfield, maupun peningkatan penggunaan scrap dinilai belum cukup menutup kebutuhan global.

“Dengan pertumbuhan permintaan tembaga rata-rata 4% per tahun, sekitar 2029 produksi tembaga akan jauh berada di bawah kebutuhan dunia. Jadi ini menjadi sangat krusial,” kata Rachmat dalam MetConnex 2026, Selasa (12/5/2026).

(azr/wdh)

No more pages