Kendati tak dapat menyebut fungsi pembiayaan lebih detail, Juda menjelaskan bahwa instrumen Panda Bonds ini sangat berguna sebagai instrumen alternatif agar pemerintah dapat melakukan diversifikasi pembiayaan dolar Amerika Serikat (AS).
Terlebih, hubungan perdagangan antara Indonesia dan China sangat erat. Hal ini tercermin dari data ekspor impor yang tercantum dalam neraca perdagangan Indonesia yang menunjukkan bahwa China merupakan importir utama Indonesia, sekaligus eksportir utama pula.
"Kita sudah mendorong LCT (Local Currency Transaction), dengan adanya suplai Yuan di Indonesia, maka pelaku ekspor impor akan semakin mudah bertransaksi. Jadi kita dorong transaksi langsung dengan Yuan," tutur Juda.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa rencana penerbitan Panda Bonds muncul di tengah tekanan yang dialami nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Bendahara Negara, pasar China memiliki karakteristik berbeda. Dalam hal ini, kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dan tidak terlalu bergantung pada peringkat kredit.
“Mereka tidak terlalu bergantung pada peringkat karena percaya kondisi fundamental ekonomi Indonesia baik,” imbuh Purbaya.
Berdasarkan data Kemenkeu, realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp257,4 triliun per 31 Maret 2026. Bila dirinci pembiayaan terbagi dalam pembiayaan utang sebesar Rp258,7 triliun dan pembiayaan non utang sebesar Rp1,3 triliun.
(red)





























