“Kita bicara stabilitas, bukan level, yang kami dekati sekarang adalah yang disebut stabilitas adalah volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari. Kami cek year to date sekarang itu adalah 5,4%, which is actually itu masih relatif stabil,” jelas Perry.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun mengatakan Perry harus bisa bertanggung jawab terhadap kesepakatan politik yang ditetapkan dalam asumsi makro APBN yakni rupiah dengan rata-rata Rp16.500/US$. Pasalnya sejak Januari 2026, menurut dia, BI belum bisa mencapai angka tersebut.
“Nah ini Pak, tapi tolong juga dijaga dan dihormati bahwa ini keputusan politik dengan rata-ratanya di Rp16.500/US$. Dan sampai sekarang rata-rata itu mulai dari start jatuh [rupiah melemah] Januari 2026 sampai sekarang [angka] Rp16.500 saja belum pernah [tercapai],” ungkapnya.
“Nah terus kita mau kalau begitu sepanjang nanti di akhir tahun, di pertengahan bulan, di pertengahan semester, rupiah harus berada di kisaran Rp16.000 flat supaya Rp16.500 itu dapat, harus Rp16.000. Karena sekarang sudah Rp17.000/US$,” tambah dia.
Diketahui, rupiah ditutup melemah 1,08% ke posisi Rp17.656/US$ di perdagangan spot hari ini, Senin (18/5/2026). Pelemahan rupiah kali ini sepertinya bukan sekadar respons jangka pendek terhadap gejolak global. Lebih dari itu, tekanan terhadap rupiah terjadi lantaran adanya peningkatan persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan.
Harga minyak yang masih melambung dan sempat menyentuh US$111 per barel pada perdagangan hari ini memang masih jadi pemicu utama. Jalur distribusi energi global terganggu membuat pasar khawatir terhadap lonjakan inflasi energi dunia.
Kondisi ini praktis jadi sentimen negatif bagi negara-negara emerging markets pengimpor minyak seperti Indonesia. Di Asia, tekanan eksternal dari harga minyak telah membayangi pergerakan mata uang kawasan sejak awal Maret lalu hingga hari ini.
(mfd/ros)




























