“Saya akan mengambil keputusan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Trump di dalam Air Force One ketika ditanya apakah ia mempertimbangkan pencabutan sanksi tersebut. “Kami memang membicarakan hal itu.”
Komentar bernada lebih lunak itu muncul setelah pertemuan tingkat tinggi yang dibayangi perang Iran, mengingat China merupakan pembeli terbesar minyak Iran. Namun pernyataan tersebut belum mampu menyelesaikan dilema yang kini dihadapi Gedung Putih: bagaimana membuka kembali Selat Hormuz, menurunkan harga energi global, dan mengakhiri konflik yang semakin tidak populer menjelang pemilu sela AS pada November.
Harga minyak Brent melonjak lebih dari 3% hingga diperdagangkan mendekati US$109 per barel pada pukul 14.00 waktu New York, memperpanjang kenaikan sekitar 50% sejak perang dimulai. Pelaku pasar khawatir akan eskalasi baru antara AS dan Iran setelah kunjungan Trump ke China belum menghasilkan kemajuan konkret terkait rencana pembukaan kembali lalu lintas Hormuz.
Pemulihan terbatas pergerakan kapal yang sempat terlihat awal pekan ini mulai memudar karena pemilik kapal tetap berhati-hati melintasi wilayah tersebut di tengah laporan penyitaan kapal di dekat jalur perairan itu.
Trump sebelumnya mengatakan di Beijing bahwa dirinya dan Xi memiliki tujuan bersama untuk menyelesaikan konflik, yakni membuka kembali Hormuz dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. China, seperti AS, sebelumnya juga menjadi penandatangan kesepakatan 2015 terkait pembatasan program nuklir Iran, yang kemudian ditinggalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Trump tidak secara langsung meminta Xi menekan Iran agar melonggarkan akses pelayaran di selat tersebut, namun ia memperkirakan pemimpin China itu akan melakukannya. Pada Kamis, kantor berita semi-resmi Iran Fars melaporkan Teheran akan mengizinkan kapal-kapal China melintas setelah pembicaraan dengan Beijing.
Iran sendiri dinilai tidak memiliki kepentingan untuk melonggarkan kontrolnya atas jalur perairan tersebut. Teheran menegaskan ingin mempertahankan kendali setelah perang berakhir, dan sempat menyerang dua kapal komersial yang meninggalkan Hormuz di bawah perlindungan AS dalam operasi singkat yang kemudian dibatalkan, dikenal sebagai Project Freedom.
Kemampuan Iran menutup Hormuz telah mendorong harga energi global melonjak dan memberikan Teheran posisi tawar besar dalam negosiasi dengan AS, yang menuntut Iran mengalah dalam berbagai isu mulai dari program rudal dan nuklir hingga dukungannya terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Satu-satunya peluang nyata untuk kesepakatan jangka pendek saat ini tampaknya adalah menunda pembahasan terkait cadangan uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi. Kedua pihak memberi sinyal isu itu akan dibahas pada tahap negosiasi berikutnya, meski Trump sebelumnya menjadikan program nuklir Iran sebagai alasan utama perang.
Iran menyatakan telah “mencapai kesimpulan bersama dengan pihak Amerika” untuk menunda pembahasan isu tersebut hingga tahap akhir negosiasi karena dinilai “sangat rumit,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam konferensi pers di India pada Jumat.
Trump juga mengatakan di dalam Air Force One bahwa dirinya bersedia mengirim pasukan AS untuk mengambil uranium Iran “pada waktu yang tepat,” meski sebelumnya dalam wawancara dengan Fox News ia menyebut misi semacam itu “lebih bersifat pencitraan publik daripada hal lainnya.”
Cadangan uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi, yang keberadaannya tidak diketahui sejak kampanye pengeboman AS dan Israel pada Juni tahun lalu, tetap menjadi salah satu hambatan utama menuju kesepakatan damai.
Hambatan lain adalah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran yang bertujuan menekan ekonomi Teheran. Komando Pusat AS pada Jumat mengatakan blokade tersebut telah mengalihkan 75 kapal komersial dari jalur pelayaran melalui Hormuz.
(bbn)

























