Kinerja laba perusahaan AS yang solid telah memicu gelombang baru revisi naik target akhir tahun Wall Street untuk indeks S&P 500, karena investor bertaruh laba korporasi mampu menopang reli pasar meskipun ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung.
Saham global telah menghapus kerugian akibat konflik Iran dan kembali mencetak rekor tertinggi, didukung ekspektasi bahwa belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan, khususnya di Asia, akan menopang pertumbuhan laba perusahaan.
“Pasar saat ini memperhitungkan pertumbuhan yang didorong AI sekaligus guncangan pasokan dari Timur Tengah,” ujar Jean Boivin, kepala BlackRock Investment Institute.
Menurut dia, pembangunan pusat data AI membantu mengimbangi dampak negatif guncangan pasokan minyak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah tampak mulai goyah, setelah Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaiannya sebagai “piece of garbage” dan mengatakan bahwa ia “bahkan belum selesai membacanya.”
Trump tidak menyatakan apakah AS akan kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, sebagaimana sebelumnya diancamkan jika kepemimpinan Republik Islam itu tidak menyetujui syarat-syaratnya.
Trump juga mengatakan kepada Fox News pada Senin bahwa ia tengah mempertimbangkan kembali rencana pengawalan kapal melalui Selat Hormuz.
“Kesepakatan masih sulit tercapai dan risiko tetap tinggi,” ujar Mark Haefele dari UBS Chief Investment Office. “Kedua pihak masih berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan kesepakatan.”
Perhatian investor juga akan tertuju pada laporan CPI AS yang dirilis Selasa pagi guna mengukur dampak perang terhadap inflasi.
Goldman Sachs Group Inc. dan Bank of America Corp. menjadi bank Wall Street terbaru yang menunda proyeksi pemangkasan suku bunga mereka, dengan alasan data inflasi dan ketenagakerjaan masih mendukung sikap Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga setidaknya hingga akhir tahun.
Meski konflik Iran terus berlanjut, kuatnya kejutan positif laba kuartal pertama telah mendorong sejumlah strategis Wall Street menaikkan target tahunan mereka untuk S&P 500.
CFRA menaikkan targetnya berkat ketahanan belanja konsumen dan investasi terkait AI, sementara Yardeni Research Inc. kini memiliki proyeksi tertinggi di Wall Street di antara para strategis yang dipantau Bloomberg.
Namun demikian, sebagian pelaku Wall Street juga khawatir harga minyak yang tetap tinggi dan kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan pasokan dapat menggagalkan reli pasar.
Morgan Stanley memperingatkan pada Senin bahwa pasar minyak sedang berada dalam “perlombaan melawan waktu” dan harga dapat melonjak tajam jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga Juni.
“Kekhawatiran terbesar adalah selama ini kita memiliki bantalan pada harga energi dan ada perdebatan mengenai kapan bantalan itu habis. Kapan kita benar-benar menyentuh dasar pasokan dan kapan ini benar-benar menjadi masalah,” ujar Sarah Hunt, kepala strategi pasar di Alpine Saxon Woods, dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
(bbn)




























