Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan melaporkan setidaknya telah ada sebanyak 23 jumlah kasus yang terkonfirmasi terkait dengan hantavirus di Indonesia, yang telah tersebar di 9 provinsi sejak 2024 hingga pekan ke-16 2026.

Dari total tersebut, sebanyak 3 kasus di antaranya telah menyebabkan kematian. Dengan demikian, angka fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) tercatat mencapai 13%.

"Ini situasi nasional. Ada 23 positif, tiga kematian, sisanya sembuh. Sisa dua kasus suspek sudah terkonfirmasi negatif,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman dalam pernyataan resminya, baru-baru ini.

Adapun distribusi kasus berdasarkan domisili tersebar di sejumlah wilayah, yakni:

  • Jakarta sebanyak 6 kasus
  • Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 6 kasus
  • Jawa Barat sebanyak 5 kasus
  • Nusa Tenggara Timur sebanyak 1 kasus
  • Kalimantan Barat sebanyak 1 kasus
  • Sumatra Barat sebanyak 1 kasus
  • Sulawesi Utara sebanyak 1 kasus
  • Banten sebanyak 1 kasus
  • Jawa Timur sebanyak 1 kasus

Temuan lain juga terkonfrimasi di sebanyak 29 provinsi lain, yang berasal dari studi Rikhus Vektora oleh Balai Litbangkes Kelas I Salatiga.

Aji menjelaskan penularan penyakit tersebut berkaitan dengan kontak manusia terhadap tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan tersebut. 

Namun, di Indonesia, kata dia, jenis virus yang terkontaminasi jenis Seoul virus, bukan andes virus seperti yang terkonfirmasi dalam wabah kapal pesiar mewah MV Hondius.

Dia memastikan risiko penyebaran virus tersebut saat ini masih tergolong rendah berdasarkan penilaian WHO. “Menurut WHO risikonya masih rendah,” kata Aji saat dikonformasi.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah infeksi langka namun berpotensi mematikan yang biasanya menyebar ke manusia melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi, terutama melalui urine, kotoran, atau air liurnya.

Seseorang dapat terinfeksi dengan menghirup partikel yang terkontaminasi virus, sering kali di ruang tertutup atau dengan ventilasi buruk.

Tergantung pada jenisnya, virus ini dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

Meskipun infeksi jarang terjadi, dampaknya bisa parah. Beberapa bentuk hantavirus pulmonary syndrome memiliki tingkat kematian hingga 40% atau lebih.

Dalam penilaian risiko Indonesia periode 2025, Kementerian Kesehatan menilai risiko importasi kasus tipe HPS pada manusia berada pada tingkat sedang. Sementara itu, risiko penambahan kasus tipe HFRS pada manusia dinilai tinggi.

Cara Menyebar, Gejala, hingga Obat

Virus ini terutama ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Infeksi biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat, sering kali di ruang tertutup atau dengan ventilasi buruk.

Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan bahan yang terkontaminasi atau, lebih jarang, melalui gigitan hewan pengerat.

Penularan antar manusia sangat jarang terjadi, meskipun satu varian yang dikenal sebagai andes hantavirus telah terbukti dapat menyebar antar manusia dalam kasus terbatas.

Hal ini membuat klaster di kapal pesiar menjadi tidak biasa, karena paparan biasanya terjadi di lingkungan pedesaan atau luar ruangan tempat manusia bersentuhan dengan habitat hewan pengerat.

Gejala awalnya, virus ini sering menyerupai flu, termasuk demam, kelelahan, nyeri otot, dan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami mual, muntah, dan nyeri perut.

Dalam kasus parah, gejala dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan akibat penumpukan cairan di paru-paru—ciri khas hantavirus pulmonary syndrome. Pasien mungkin memerlukan perawatan intensif, termasuk bantuan oksigen atau ventilator.

Meski demikian, belum ada pengobatan antivirus khusus atau vaksin yang tersedia secara luas untuk infeksi hantavirus. Perawatan umumnya bersifat suportif, berfokus pada penanganan gejala dan komplikasi seperti kadar oksigen rendah atau kegagalan organ.

Penanganan medis sejak dini dapat meningkatkan peluang pemulihan, terutama pada kasus pernapasan yang parah. WHO kini sedang berkoordinasi dengan otoritas nasional dan operator kapal untuk menangani wabah, termasuk evakuasi medis dan penilaian risiko bagi penumpang serta awak.

Pembaruan lebih lanjut diharapkan seiring hasil uji laboratorium mengonfirmasi kasus tambahan dan penyelidik menentukan bagaimana virus menyebar.

Temuan ini dapat memengaruhi cara otoritas kesehatan menilai risiko dalam situasi perjalanan serupa pada masa mendatang.

(ibn/wdh)

No more pages