Dalam persidangan, para terdakwa pun sempat menjawab singkat pertanyaan dan pendapat majelis hakim. Mereka mengatakan, penyiraman air keras menggungkan gelas tumbler karena tak tersedia botol air kemasan di Denma BAIS TNI.
"Yang ada hanya itu [tumbler]," kata terdakwa. "Tak ada botol Aqua [air mineral] di mess."
Naik Motor Tak Pakai Helm
Fredy juga mengungkap pendapat pribadinya soal keputusan para terdakwa yang nampak amatir saat mencari keberadaan Andrie Yunus. Salah satunya, mereka terekam CCTV lalu lintas karena tak mengenakan helm dan jaket yang sesuai.
"Kok amatir banget itu lho. Jadi gemes saya itu melihatnya," ujar dia. "Ini kan malu-maluin BAIS. Kok caranya jelek banget. Berantakan."
Dia mengatakan dirinya hanya seorang anggota militer bidang administrasi, bukan intelijen atau pasukan tempur. Namun, dia menilai, seorang anggota BAIS seharusnya bisa bergerak dengan terorganisir.
"Kan bisa main cantik dulu. Oh, ada CCTV, [maka] pakai jaket lah, pakai masker lah, pakai penutup muka lah. Masa di tengah jalan nggak pakai helm," ujar Fredy.
"Nah ini kan jadi lucu-lucuan. Saya saja yang tidak pasukan tempur paham yang begitu-begitu."
Bukan Operasi Intelijen
Sejumlah pernyataan hakim, oditur, saksi, dan kuasa hukum dalam persidangan memang seolah menekankan penyerangan terhadap Andrie Yunus bukanlah operasi intelijen. Serangan tersebut seolah terfokus hanya kesepakatan empat anggota BAIS TNI tanpa keterlibatan anggota lain, termasuk sistem komando yang lebih tinggi.
Dalam sidang, para terdakwa pun disebut hanya bagian pelayanan di BAIS TNI, bukan anggota intelijen. Setiap hari, para terdakwa hanya menjalankan tugas pelayanan terkait operasional Denma BAIS TNI.
Motif serangan terhadap Andrie Yunus pun terfokus semata balas dendam para terdakwa.
(dov/frg)




























