Ihwal peta jalan implementasi konversi tersebut, Laode menyatakan Menteri ESDM bersama Ditjen Migas masih mengkaji peta jalan tersebut dan belum dapat mengumumkannya ke publik.
Laode masih belum dapat mengungkapkan peran PT Pertamina (Persero) dan pihak swasta dalam proses pemenuhan pasokan gas bumi, pengisian CNG, hingga proses distribusi CNG 3 kg.
“Polanya saya belum bisa umumkan, sedang disusun oleh tim, Pak Menteri juga memimpin langsung, jadi nanti setelah itu akan disampaikan langsung oleh Pak Menteri. Dan akan ini, ada sisi penyiapan tabung, ada distribusinya kan? Nah ini harus matching gitu,” ujar Laode.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku sedang melakukan uji coba pengembangan CNG di tabung 3 kg. Dia mengestimasi waktu uji tersebut bakal memakan waktu 2–3 bulan.
Bahlil menyatakan uji coba tersebut diperlukan, sebab tekanan CNG terbilang lebih tinggi dibandingkan dengan LPG. Dia mencatat tekanan CNG dalam tabung bisa mencapai 200 hingga 250 bar.
“Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2—3 bulan ini kita akan dapat hasilnya, kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi,” kata Bahlil kepada awak media di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).
Dia mengatakan saat ini sejumlah industri seperti perhotelan, restoran, hingga dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan CNG sebagai sumber energi untuk memasak.
Akan tetapi, industri tersebut menggunakan CNG berukuran 20 kg dan beberapa di antaranya menggunakan ukuran 10 kg.
“Nah, untuk yang 3 kilo memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar,” ujar Bahlil.
Bahlil menyatakan, berdasarkan kajian saat ini, pemanfaatan CNG bakal memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% ketimbang LPG.
Alasannya, Indonesia memiliki pasokan gas bumi dengan kandungan C1 atau metana dan C2 atau etana. Dua komponen tersebut merupakan bahan baku dari CNG.
“Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya saja sudah bisa meng-cover. Lalu, yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya,” tegas dia.
“Jadi itu jauh lebih efisien. Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan,” lanjut Bahlil.
Selain itu, Bahlil mengaku membuka opsi pemberian subsidi terhadap CNG 3 kg, meskipun harga produk tersebut diklaim lebih murah 30%--40% dibandingkan LPG.
Bahlil mengaku masih mengkaji kemungkinan besaran subsidi per tabung untuk proyek CNG 3 kg. Namun, sebagai perbandingan, dia menyebut nilai subsidi LPG mencapai sekitar Rp18.000—Rp20.000 per tabung.
“Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca,” kata Bahlil.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.
Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).
Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.
(azr/ros)




























