Logo Bloomberg Technoz

Kondisi ketidakpastian global yang menekan harga minyak mentah, makin mempersempit ruang fiskal Indonesia.

Harga minyak yang bertahan tinggi di atas US$110 per barel menciptakan risiko ganda: tekanan terhadap inflasi dan pelebaran defisit transaksi berjalan melalui impor energi. 

Kondisi ini makin memperburuk persepsi eksternal terkait ketahanan fundamental domestik. 

Permintaan domestik masih lemah yang tercermin dari inflasi yang relatif jinak. Selain itu, dalam beberapa kelompok barang, malah tercatat deflasi. 

Secara bulanan, beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, ikan segar, kacang panjang, kangkung, bayam, tarif angkutan antar kota, dan emas perhiasan juga menyumbang deflasi. 

Deflasi pada beberapa komoditas pangan ini menandakan bahwa dorongan konsumsi masyarakat yang tidak cukup kuat untuk menciptakan kenaikan harga yang signifikan. 

Di sisi lain, pasar obligasi domestik juga menunjukkan kehati-hatian. Hari ini, aksi jual masif terjadi pada tenor menengah. Mengacu data Bloomberg, imbal hasil di hampir semua tenor tercatat naik, mengindikasikan tekanan jual yang cukup masif.

Imbal hasil tenor 3 tahun naik menjadi 6,5% (+5,5 bps), tenor 4 tahun menjadi 6,74% (+5,9 bps), tenor 5 tahun naik jadi 6,8% (6,1 bps). Sementara tenor 6 tahun hingga 9 tahun juga mengalami kenaikan meski masih moderat (+2,8 bps hingga +3,3 bps). Begitu juga dengan tenor acuan terkerek naik 1,8 bps ke 6,81%.

(dsp/aji)

No more pages