Logo Bloomberg Technoz

“Kami memiliki cukup banyak cara dalam bisnis ini untuk dapat mengimbangi dan meredam dampaknya. Namun, hal ini berarti bahwa untuk Indonesia, struktur tarif dan model bisnis untuk mitra ojol jenis motor mungkin perlu disesuaikan kembali. Tentunya, ini bukanlah perubahan kecil,” Oey menekankan.

Indonesia merupakan pasar layanan transportasi online terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan pengemudi yang bergantung pada layanan transportasi dan pengiriman berbasis aplikasi. Aksi protes terkait upah dan kondisi kerja semakin memanas dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak pengemudi yang merasa tidak puas dengan apa yang mereka gambarkan sebagai kebijakan aplikasi yang eksploitatif dan kelalaian regulasi.

Ojol sepeda motor di Indonesia menyumbang kurang dari 6% dari volume bisnis operasi mobilitas Grab, kata COO Alex Hungate.

Ilustrasi Gojek dan Grab Wrapped 2024 (Bloomberg Technoz)

Grab diketahui juga beroperasi di beberapa pasar lain di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Sangat penting agar pasar mobilitas Grab di Indonesia tetap sehat dan penghasilan mitra pengemudi masih terjamin. “Kami tetap secara proaktif dengan kementerian terkait dan berusaha mencari kejelasan serta aspek teknis mengenai bagaimana peraturan tersebut akan diterapkan,” kata Hungate.

Grab diketahui melaporkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan untuk kuartal pertama, yang melampaui perkiraan analis sekitar 5%. Pendapatan juga melampaui proyeksi. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini mempertahankan perkiraan tahunannya untuk penjualan sebesar US$4,1 miliar dan EBITDA yang disesuaikan hingga US$720 juta.

Usai bertahun-tahun melakukan investasi secara serius demi meraih pangsa pasar di Asia Tenggara, Grab masih menghadapi persaingan ketat dari para pesaingnya yang dipimpin GoTo Group. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, Grab menarik pengguna dengan layanan seperti tumpangan bersama dan pengiriman barang, sambil memperlambat laju ekspansi yang dulu begitu pesat.

Grab, yang didukung oleh Uber Technologies Inc., telah mengalami perlambatan pertumbuhan yang drastis dari tingkat pertumbuhan tiga digit di tahun-tahun sebelumnya seiring dengan langkah-langkah yang diambil untuk fokus pada profitabilitas. Peningkatan basis pelanggan telah membuat Grab memiliki ruang yang kian terbatas untuk mendapatkan konsumen baru, sehingga mendorongnya untuk memperkenalkan penawaran baru — termasuk alat concierge yang didukung AI dan cara untuk membagi biaya perjalanan dengan teman — guna menarik konsumen di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

“Hasil kuartal pertama Grab seharusnya memperkuat bahwa EBITDA yang disesuaikan dan arus kas bebas meningkat seiring dengan profitabilitas, didukung oleh volume layanan sesuai permintaan yang lebih tinggi dan peningkatan leverage operasional. Manajemen memproyeksikan EBITDA yang disesuaikan sebesar US$700 hingga US$720 juta pada 2026 dari US$500 juta pada 2025, dengan target konversi arus kas bebas yang disesuaikan meningkat menjadi 80% pada 2028 dari 58% pada 2025,” diterangkan  Bloomberg Intelligence.

“Perdebatan utama untuk 2026 adalah apakah Layanan Keuangan akhirnya dapat mencapai profitabilitas seiring dengan terus berkembangnya pinjaman dan investasi perusahaan dalam pertumbuhan. Bisnis mobility dan delivieres dengan GMV pada kuartal keempat tumbuh 20-22%, pendapatan layanan keuangan naik 34%, sementara portofolio pinjaman US$1,18 miliar. Dampak awal perang Iran dan peryataan tambahan terkait transaksi Foodpanda Taiwan juga dapat memengaruhi sentimen pasar, disampaikan dua analis Nathan Naidu dan Jason Low.

Dalam upaya meredakan persaingan yang ketat, Grab telah menjajaki merger dengan GoTo. Upaya bertahun-tahun ini tertunda akibat pengawasan regulasi serta perbedaan persepsi terkait valuasi. Salah satu hambatan terbaru dalam negosiasi adalah perselisihan terkait kepemilikan Telkomsel sebesar sekitar 2% di GoTo.

Grab juga merambah pasar di luar pasar domestiknya yang sangat kompetitif, dengan menghabiskan US$600 juta untuk mengakuisisi operasi Foodpanda milik Delivery Hero SE di Taiwan sebagai langkah pertamanya di luar Asia Tenggara. Akuisisi ini akan memberikan Grab kehadiran di pulau dengan populasi sekitar 23 juta orang.

“Kita harus menembus pasar Taiwan. Itu pasar yang penting,” kata Oey.

(bbn)

No more pages