Logo Bloomberg Technoz

Pada April lalu, BSP baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin menjadi 4,5% dan dijadwalkan kembali menggelar pertemuan bulan depan.

“Saat mereka bertemu di bulan Juni nanti, data inflasi Mei sudah keluar dan tidak sulit membayangkan angka itu menyentuh 8% atau 9%,” kata Neri. “Jika suku bunga kebijakan tetap di bawah 6% pada saat itu, situasinya akan terlihat janggal.”

Kondisi ini turut memukul nilai tukar Peso yang melemah 0,3% pada hari Selasa, mendekati rekor terendah di angka 61,75 per dolar AS. Peso kini menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sejak perang di Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Lonjakan inflasi April didorong oleh kenaikan biaya transportasi sebesar 21%, serta kenaikan 8% pada sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya. Harga makanan dan minuman non-alkohol juga melonjak 6%, terutama disebabkan oleh harga beras dan ikan.

Secara bulanan, inflasi berdiri di angka 2,6%, merupakan yang tertinggi sejak Januari 2000 menurut PSA.

Pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. kini berencana meninjau kembali proyeksi ekonomi untuk tahun 2026 seiring perang AS terhadap Iran yang terus menghambat pasokan kritis serta mengerek harga minyak mentah dan pupuk. BSP memperingatkan bahwa guncangan harga minyak yang berkepanjangan dapat mengganggu stabilitas ekspektasi inflasi, dan berjanji untuk tetap waspada berdasarkan data yang masuk.

Meskipun pemerintah telah memberikan bantuan kepada pengemudi transportasi umum, petani, dan nelayan, Filipina tidak memiliki sistem subsidi bahan bakar menyeluruh seperti yang diterapkan Indonesia dan Malaysia. Selain itu, fenomena kekeringan El Nino yang diprediksi mulai pada Juni mendatang dikhawatirkan akan mengganggu hasil tani.

“Prioritas kami adalah memastikan pasokan bahan bakar yang stabil, harga yang terkendali, dan perlindungan yang memadai bagi semua sektor di tengah tantangan domestik dan global yang sedang berlangsung,” ungkap Sekretaris Perencanaan Ekonomi Arsenio Balisacan dalam pernyataan resminya.

Michael Ricafort, kepala ekonom di Rizal Commercial Banking Corp., menilai bank sentral mungkin terpaksa menaikkan suku bunga acuan kembali—berpotensi sebesar setengah poin—untuk "mematikan tekanan inflasi sejak dini" dan mengembalikan inflasi ke rentang target 2%–4%.

BSP perlu melakukan pengetatan demi memenuhi mandat menjaga stabilitas harga, “meskipun konsekuensi yang tidak diinginkan adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

(bbn)

No more pages