Sepanjang tahun ini, harga minyak mentah AS telah melonjak lebih dari 80%. Konflik tersebut telah menghilangkan jutaan barel minyak dari pasar, mengingat Selat Hormuz masih hampir tertutup sepenuhnya bagi sebagian besar kapal dan sumur-sumur minyak di kawasan tersebut mulai berhenti beroperasi. Jalur air ini menjadi sasaran blokade ganda, dengan Teheran berupaya mencegah transit kapal, sementara Washington menghentikan kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui unggahannya di media sosial X menyatakan bahwa pembicaraan dengan Washington sebenarnya "mengalami kemajuan". Namun, ia memperingatkan bahwa AS dan UEA "harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam situasi buntu oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian." Ia menambahkan bahwa peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa "tidak ada solusi militer untuk krisis politik."
Di sisi lain, Donald Trump dalam wawancara dengan Salem News Channel memperkirakan perang yang dimulai sejak akhir Februari ini mungkin akan berlangsung dua hingga tiga minggu lagi. "Waktu bukanlah hal yang mendesak bagi kami dalam membuat kesepakatan," cetus Trump.
Lonjakan biaya energi ini memicu kekhawatiran bahwa konflik akan mengobarkan inflasi sekaligus memukul pertumbuhan ekonomi. Di pasar Treasury AS, imbal hasil (yield) 30-tahun naik ke level tertinggi sejak Juli, melampaui 5%. Para trader mulai bertaruh bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terpaksa harus berbalik arah dan menaikkan suku bunga untuk meredam lonjakan harga.
Analis minyak dan gas di Enverus, Carl Larry, menilai harga minyak akan terus merangkak naik karena "eskalasi tampaknya menjadi jalur yang dipilih." Ia menambahkan, "Harapan akan perdamaian meredup, dan apa pun yang terjadi selama eskalasi tidak akan berdampak baik."
Harga:
- WTI untuk pengiriman Juni turun 1,4% ke US$104,91 per barel pada pukul 06.47 waktu Singapura.
- Brent untuk pengiriman Juli ditutup naik lebih dari 5% ke US$114,14 per barel.
(bbn)




























