Logo Bloomberg Technoz

Adapun saham konsumen non-primer yang melaju pesat adalah, saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) melesat 23,9%, saham PT Net Visi Media Tbk (NETV) menguat dengan kenaikan 20,4%. Saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) terapresiasi 13%.

Senada dengan saham konsumen primer, saham PT Hero Supermarket Tbk (HERO) menguat 24,4%, saham PT Pinago Utama Tbk (PNGO) terangkat 10,5% dan saham saham PT Estee Gold Feet Tbk (EURO) melesat 9,97% yang juga turut mendukung penguatan IHSG.

Saham–saham LQ45 turut melesat di teritori positif, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melejit 7,95%, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) lompat 6,58%. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menguat 6,05%, dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) terbang 5,6%.

Investor mencermati lebih lanjut data neraca perdagangan barang Indonesia pada Maret 2026 yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) siang hari tadi, Senin (4/5/2026).

Hasilnya, neraca perdagangan Indonesia per Maret 2026 berhasil mengalami surplus US$3,32 miliar.

Namun yang jadi perhatian neraca perdagangan tersebut nilainya menurun dibanding surplus pada Maret 2025 yang saat itu mencapai US$4,33 miliar, kendatipun surplus sudah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Terlebih lagi, berdasarkan data BPS, nilai surplus neraca perdagangan secara kumulatif telah menyusut separuhnya, di mana neraca perdagangan barang kumulatif periode Januari–Maret 2026 surplus US$5,55 miliar dibanding dengan total surplus Januari–Maret 2025 yang mencapai US$10,91 miliar.

Menelisik lebih jauh, Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor pada bulan Maret 2026 sebesar US$22,53 miliar. Artinya, apabila dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year–on–year/yoy) nilai ekspor nasional mencatatkan penurunan 3,1%.

Sementara itu impor pada bulan Maret 2026 menyentuh US$19,21 miliar. Sehingga impor bulan Maret tahun ini ada kenaikan sebesar 1,51% yoy.

“Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil terhadap peningkatan impor tersebut sebesar 1,29%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.

Ateng melaporkan, pada bulan Maret Nilai impor non-migas mencapai US$16,04 miliar atau naik 1,54% secara tahunan. Sementara impor migas tercatat sebesar US$3,17 miliar atau meningkat 1,34% yoy.

Adapun menyitir Panin Sekuritas, ketegangan Timur Tengah terlihat signifikan hingga memperlambat aktivitas ekspor maupun impor secara tahunan. Surplus dagang per Maret 2026 tercatat naik disebabkan oleh topangan ekspor bulanan yang melebihi tekanan harga impor yang meningkat. 

“Perlu dicatat bahwa kontraksi ekspor secara tahunan ini mencerminkan high-base effect seiring pola frontloading ekspor tahun lalu demi menghindari ancaman kebijakan tarif AS,” tegas Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya, Senin.

Secara bulanan, performa ekspor ditopang oleh komoditas minyak sawit, namun diiringi dengan perlambatan impor China. Dari sisi impor, tercatat adanya pola yang berubah total seiring impor konsumsi yang kembali kontraksi imbas depresiasi rupiah yang cukup signifikan dan pergeseran pola konsumsi domestik yang lebih berjaga–jaga. 

“Kenaikan nilai impor juga turut didorong oleh komoditas migas dan komoditas bahan baku lainnya,” jelas Panin.

Kedepannya, tekanan terhadap neraca perdagangan masih terbuka lebar, seiring perlambatan permintaan global serta tingginya nilai impor minyak mentah dan bahan baku industri.

“Potensi kontribusi komoditas alternatif seperti CPO dan perjanjian perdagangan bilateral dapat menjadi andalan dalam menopang surplus dagang,” tutup Panin.

(fad)

No more pages