Capaian neraca dagang ini terbilang baik karena berada di atas proyeksi para ekonom. Namun kabar dari sektor riil yang mulai terbatuk-batuk dengan turunnya indeks manufaktur ke bawah 50 dan menandakan adanya kontraksi, justru jadi pemberat rupiah.
Indeks PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat di 49,1, di bawah 50 artinya sektor industri kembali masuk ke fase kontraksi, setelah sempat berada di zona ekspansi pada Maret.
Lebih dari itu, komponen output turun menjadi 46,2 dari posisi Maret 48,9, sekaligus menandakan posisi terendahnya sejak Mei 2025. Hal ini mengindikasikan adanya pelemahan permintaan domestik maupun eksternal, serta adanya potensi penyesuaian tenaga kerja, atau kapasitas produksi.
Kondisi ini menekan pergerakan rupiah dan memberikan sentimen bagi investor yang mengharapkan pertumbuhan ekonomi domestik. Besok BPS akan kembali memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2026, yang menurut survei Bloomberg masih cenderung aman dan berada di level 5,3%.
Jika proyeksi tersebut terjadi, pasar mungkin akan sedikit melunak meski tetap akan mencermati kondisi fiskal dengan harga minyak mentah global yang masih bertahan tinggi di atas US$100 per barel.
(dsp/aji)



























